Jika kita mencap diri sebagai traveler sejati, sudah tentu yang pertama harus dijelajahi adalah negeri kita sendiri. Bukan, bukan saya anti traveling ke luar negeri, saya pun suka menjelajah negeri orang dengan segala keunikannya, hanya koq kesannya seperti kacang lupa kulitnya jika kita mengaku cinta Indonesia sedangkan yang kita agung-agungkan adalah negara lain. Yekan?? Udah, gitu aja sih kalau kata saya… *lah, mau ngomong apa sih, ter sebenernya?!?*

Iya, saya paham koq pertimbangan para traveler-ogah-rugi-seperti-saya-sendiri yang berpikir dengan nominal serupa tapi kita sudah bisa nyasar ke negeri orang, ya mending ke negeri orang donk, sekalian nambah-nambahin cap di passport. Betul, saya juga kadang berpikir serupa. Hanya kali ini, karena kesadaran dan kepintaran saya sudah pulih, ijinkanlah saya sedikit bernasionalis, apalagi sekarang masih nuansa Tujuh-Belasan 😁.

Kalau boleh saya bertanya, dari 35 propinsi di Indonesia, berapa propinsikah yang sudah anda jejakkan? Mulai dari Pulau Weh sampai Papua?? Hah, haahh??? Maaf nih ya, bukan saya sombong nih, maaf bangetttt, tapi saya sudah menjejakkan kaki hampir di semua propinsi di Indonesia *hidung kembang-kempis*.

*sumpe loe, yang bener?*

Iyaaaa.. Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua sudah habis saya explore.

*ah masa sih? Beneran?!?*

Iyessss! Dan hanya dalam satu hari!

*hah, koq bisa??*

Dalam bentuk replika-nya, di cultural park Taman Nusa.

*#$%&@&#$!! Yang kayak begini neh, layak disedot darahnya!!*

Taman Nusa44_1472197109149

Taman Nusa merupakan taman budaya yang dibangun di lahan seluas 15 hektar, dengan pemilik sekaligus pendirinya adalah Bpk. Ir. Santoso Senangsyah. Beliau ingin para pengunjung terutama generasi muda, dapat kembali merasakan kecintaan terhadap tanah air dan bangsa.

Taman Nusa terletak sekitar 30 menit dari Denpasar atau sekitar 1 jam dari Kuta, ke arah Gianyar. Dibuka untuk umum pada tahun 2013 dengan masa penggarapan selama 6 tahun dari tahun 2007 (kalau saya gak salah ingat informasi dari bapak guide. Kalau salah ya maap-maap).

Konsepnya unik, karena kita akan seperti diajak berkelana menembus dimensi waktu, mulai dari jaman Pra Sejarah / jaman batu, jaman Perunggujaman Sejarah / kerajaan, sampai jaman Kemerdekaan. Selain itu, kita akan dibawa menjelajah Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua, lengkap dengan rumah-rumah adat, budaya, dan kesenian khasnya. Ntar ya saya jabarkan. Ini mulai dari pintu masuk dulu.

Di sebelah resepsionis tempat membeli tiket, terdapat gerbang masuk. Oyaa, tidak diperbolehkan membawa makanan / minuman dari luar. Dari mana saya tau, padahal tidak ada papan pemberitahuannya? Dari ditahannya botol air mineral yang saya bawa oleh satpam di gerbang masuk 😅.

Jalan sedikit, lalu kita akan bertemu dengan satu bangunan unik yang ternyata adalah museum, sekaligus sebagai tempat awal memulai petualangan kita. Di dalam musem terdapat barang-barang yang khas Indonesia banget, seperti ulos, batik, miniatur kapal Phinisi, barong, kuda lumping, wayang, peta Indonesia, dan banyak lagi.

Di tengah museum ada tangga turun, yang semakin ke bawah semakin gelap. Tangga itu menghubungkan kita dengan jaman Pra Sejarah dimana nuansa yang mendominasi di bawah sana adalah gua-gua. Ini horror, asli.. Setelah turun, di dalam gua-gua itu saya merinding beberapa kali. Hahaaa.. Emang cemen aja sih anaknya.

Lalu setelah lepas dari gua laknat itu, nuansa jaman batu langsung menyambut. Batu-batu besar buatan di sisi kanan kiri seolah membawa imajinasi kita ke jaman itu. Kayak lagi jadi Flinstone! Jalan sedikit lagi, lalu ketemu gua lagi *sigh* yang menghubungkan kita dengan jaman Sejarah.

Setelah komat-kamit beberapa saat di dalam gua, begitu keluar, saya dibuat ternganga karena disuguhi pemandangan replika Candi Borobudur yang sangat mirip dengan aslinya! 

Katanya bebatuan yang dipakai membangunnya pun sama dengan yang dipakai untuk membangun Candi Borobudur, juga pengrajinnya didatangkan langsung dari Yogyakarta. Asli mirip bangettt, ukiran, stupa, relief, candinya persis! Sampai saya ber’wow-wow’ sendiri.

Taman Nusa18_1472196611129

Setelah dibawa melewati jaman Sejarah tersebut, masuklah saya ke area Kampung Budaya dimana di area ini kita dibawa mengexplore Indonesia. Posisi pertama adalah propinsi Papua. Silahkan dinikmati ya gambar-gambarnya..

Hampir di setiap propinsi ada penduduk asalnya yang sedang melakukan berbagai aktivitas tradisional, seperti memahat, membatik, menenun, menyanyi, menari, memainkan alat musik tradisional, dll, lengkap dengan memakai pakaian adatnya. Sukaaaaa!!!

Kita juga diperbolehkan masuk ke setiap rumah adat, dan jika anda beruntung, anda diperbolehkan mencoba aktivitas mereka. Seperti di propinsi Bali, kita bisa melihat dapur asli masyarakat Bali jaman dahulu dan berpura-pura masak ala jaman itu.

Banyak yang menyebut Taman Nusa sebagai TMII-nya Bali (Taman Mini Indonesia Indah-Jakarta dimana di sana juga terdapat miniature Indonesia). Memang betul, tapi buat saya secara pribadi, Taman Nusa lebih menarik karena rumah-rumah adatnya didatangkan langsung dari propinsi asalnya. Jadi bukan dibangun ulang menyerupai aslinya, tapi memang rumah aslinya yang dipindahkan dengan cara dibongkar bagian per bagian, dibawa ke Bali, lalu dirakit kembali.

Malah katanya yang rumah adat dari Sumatera Barat sudah berusia ratusan tahun. Pantas saja penggarapan tempat ini memakan waktu sampai 6 tahun ya! Lah kita nyusun puzzle 1000 pcs aja setahun gak beres-beres. Apa kabar kalo kita yang disuruh ngerakit rumah-rumah adat ini?!? Sampe onta Arab pindah ke Kutub keknya baru kelar.

Selepas dari area Kampung Budaya, kita dibawa ke jaman Kemerdekaan. Jaman ini ditandai dengan adanya patung Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya serta di sebelahnya ada patung bapak Proklamator Ir. Soekarno dan Hatta. Kalau sudah sampai di area ini, berarti tour anda akan segera berakhir.

Menurut saya, Taman Nusa merupakan sebuah ide cerdas untuk menanamkan rasa nasionalisme sejak dini, dan sangat layak untuk dijadikan tempat study tour bagi anak sekolahan karena memang tempat ini begitu sarat makna dan bernilai edukatif tinggi.

Taman Nusa43_1472197090817

Bro, Bali gak melulu soal pantai, laut, dan pura aja loh ternyata.. Ada objek wisata ini yang juga bisa kalian sisipi di itinerary jika ke Bali lagi.

Pulang-pulang pengetahuan bertambah, rasa nasionalisme dan kecintaan akan tanah air juga bertambah. Inilah yang saya sebut ‘Memperkaya otak dan hati dalam satu tarikan nafas’. *Ceileeehhh, gaya gak tuh bahasa gue?!? Hihihiiiii..*

Taman Nusa41_1472197073420

Souvenir shop 

Tips:

  • Walaupun banyak pepohonan rindang, di beberapa area, panas menyengat khas Bali tetap terasa (terutama di area replika Borobudur). Maka oleslah sun block tebal-tebal karena berdasarkan pengalaman saya yang hanya 3 jam-an saja disana, kulit sudah berubah kecoklatan. Panasnya naujubilah binzalik! Topi dan kacamata hitam juga jangan lupa yaaa..
  • Tidak perlu khawatir kelaparan dan kehausan, karena di dalam terdapat baksos pembagian sembako beberapa resto dan stand cemilan.
  • Sebaiknya datang ke sini pagi atau sore sekalian. Pagi resikonya masih sepi sehingga tempat makan belum pada buka, siang resikonya tersengat panas yang keterlaluan, sore lebih adem tapi aura mistis lebih berasa. Hihihiiii.. Ya namanya juga hidup lah, ada aja resiko dari setiap keputusan yang kita ambil. Nikmatin aja.. Tidak bisa dipungkiri, adat di Indonesia memang kental dengan kepercayaan dan aliran (animisme & dinamisme) sehingga di beberapa rumah adat saya merasa agak tidak nyaman ketika masuk. Hehee.. 😂

Hujan Bulan Juni

Posted: June 5, 2016 in Journey of life

Secangkir teh dan sepotong martabak keju menemani sorenya.. Sudah, cukup itu saja. Sadar terlalu banyak ingin (yang tak kesampaian) malah akan membuatnya ‘mangkel’. Perlahan potongan demi potongan martabak itu masuk ke mulutnya, dinikmatinya sembari merenungkan pengalaman hidup yang mengajarinya tentang dunia yang tidak adil ini.

Pengalaman-pengalaman itu diserap, dicecap, lalu diendapkan di rongga hatinya terdalam untuk kemudian disaring sebagai bekalnya tumbuh di sepanjang perjalanan hidupnya. Sedang asiknya merenung, satu ingatan laknat mengusik.

Di meja itu, tiba-tiba dia ingat pendapat seseorang mengenai cinta. Siapanya itu tidak penting, yang penting adalah perkataannya yang terbukti mencengkram kuat di ingatan. Kata si yang tidak penting itu, “Cinta, pada suatu titik, adalah kriminalitas. Pelanggaran hak asasi manusia yang dipermaklumkan oleh jargon ‘cinta adalah saling memiliki’. Terbukti, kau mau panjangkan rambutmu hanya karena aku tidak suka cewek berambut pendek. Kau mau merubah makeupmu jadi setebal dempul hanya karena aku suka lihat cewek-cewek cantik berpoles. Kau mau rela mati-matian belajar masak rendang pada ibuku hanya karena itu makanan kesukaanku. Semuanya demi tak kehilanganku. Betul kan?”

Kepalanya makin cenat cenut tak karuan tapi ingatan-ingatan lain tak lantas menjauh, malah semakin menerornya. Bunyi desing cemburu yang pedas (lagi-lagi) menggerogoti seluruh isi kepala dan dadanya, “Apa hak perempuan itu merebut dia dariku? Cuma karena bekas pacar?? Dia pikir siapa aku, hah?!?”

Setelah beberapa waktu dia menjadi ratu bimbang, menyumpah-nyumpah ingatan laknat yang seakan tak mau lepas, emosi yang tak tertahan memaksanya mengampil ponsel. Diketikkan pesan kepada sahabatnya, ditumpahkan semua isi kepalanya di layar sebesar genggaman itu. Tulisan panjang dan beruntut, tak lupa disisipi banyak tanda tanya dan aneka emoticon luapan emosi.

Tak lama balasan masuk. “Memang betul kata si tidak penting itu, bahwa cinta adalah kriminalitas! Perbuatan jahat yang sungguh menyakiti. Sudah kau lakukan semua yang dia mau, sudah kau wujudkan segala inginnya, dan seenaknya saja perempuan itu menyerobot! Untuk apa kau pertaruhkan hatimu demi si bodoh itu?! Yang bahkan menjaga hati dan pandangannya saja dia tidak mampu?!? Biarlah orang bodoh musnah bersama kebodohannya.”

Pedas di dalam kepala dan hatinya makin menggigit-gigit.

 

 

Note: Postingan ini didedikasikan untuk sahabatku satu aliran. Be strong, girl! Ingat, Happiness start with smile katanya. Jangan lupa piknik!! ❤❤

 

Awal bulan Maret kemarin, saya dengan keluarga besar sempat quick gateway ke Purwokerto, Jawa Tengah. Yang saya suka dari gateway adalah bisa santai-santai di hotel, makan, tidur, berenang, jalan-jalan, makan lagi, tidur lagi, renang lagi, gitu aja terus sampe Deddy Corbuzier jadi gondrong lagi.

Kami menjatuhkan pilihan pada Green Valley Resort Baturaden sebagai tempat melampiaskan hasrat goler-goler ngebo kami. Dari kota Purwokerto-nya tidak terlalu jauh, kurang lebih 13 KM ke arah atas dengan jalanan yang lumayan lebar dan sudah bagus.

Green Valley Resort Baturaden8

Walau tiba saat hari sudah gelap, tapi keasrian dan kecantikan hotel ini masih dapat dinikmati. Suasana Hotel bintang 3 ini didominasi atmosfir yang homy, dikelilingi pepohonan rindang dan lampu bernuansa kuning, membuatnya terasa hangat. Walaupun terletak di tepi jalan besar, tapi suasananya cukup tenang karena lalu lalang kendaraan juga tidak terlalu crowded.

Green Valley Resort Baturaden1

Lobby

Green Valley Resort Baturaden7

Begitu sampai, kami langsung checkin dan menuju kamarrrrr.. Perjalanan dengan durasi 9 jam dari Bandung lumayan bikin pantat agak kriting, bok! Udara malam disana cukup dingin, tapi masih enak koq dinginnya, gak perlu sampai pakai kutang baju berlapis-lapis.

Kamar yang saya tempati adalah tipe eksekutive dengan rate Rp.575.000,- saat itu. Kamarnya lumayan luas, ada balkon luarnya dengan pemandangan mini waterboom dan pegunungan. Kamar mandinya agak sempit sih kalau buat yang bawa anak, cuma bikin betah karena ada bath tub-nya. Mayan lah untuk rendam-rendaman. Amenities toilet standard disediakan. Fasilitas kamarnya ada TV cable, sofa, pemanas air, lemari dengan hanger, telepon, mini bar, Safety Deposite Box, air mineral, dan sandal kamar.

Green Valley Resort Baturaden3

Kamar

Green Valley Resort Baturaden4

Keesokan harinya baru saya melihat secara jelas pemandangan sekeliling hotel. Di sebelah kanan lobby terdapat café yang asik buat ditongkrongin baik rame-rame atau sendiri. Nuansa cozynya dapet banget, dengan pemandangan pepohonan rindang dan gemericik air dari kolam kecil, ditambah udara yang adem. Cocok buat ngopi, nongki, atau sekedar duduk-duduk tak bermakna. Ai laiiikkkk.. Entah selera saya yang toku atau begemana, tapi saya betah aja berlama-lama disini.

Green Valley Resort Baturaden9

cafe

Di sebelah kiri lobby terdapat restoran. Breakfast-nya ala buffet dan menunya lumayan bervariasi, mulai dari nasi goreng, omelet, bubur, cream soup, roti, kue-kue, dan buah. Minum yang tersedia teh, kopi, dan es jeruk. Sayang kurang susu dan sereal. Yakali neeeengg, bawa sendiri atuh kalo gituuuuu… Untuk rasanya sih lumayan walau gak spesial. Bukankah kalau sedang liburan semua akan terasa enak-enak aja karena hati sedang gembira??

Green Valley Resort Baturaden10

restoran

Green Valley Resort Baturaden6

Asri, teduh, dan nyaman adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan hotel ini secara keseluruhan. Aaahh, tinggal disini pasti aku awet mudaaa!! Pak SBY juga pernah kesini ternyata. Di bagian lobby dipajang foto-foto ketika beliau berkunjung. Tapi saya lupa fotoin pajangan-pajangan itu. Pinteeeerrr!!

Salah satu fasilitas unggulan hotel ini adalah mini water boom dan kolam renang. Kolam renangnya terbagi menjadi kolam dewasa dan kolam anak yang dilengkapi seluncuran untuk anak. Water boomnya sendiri sebenarnya cukup menarik dengan seluncuran beragam bentuk dan ketinggian, sayang saat saya kesana sedang tidak beroperasi. Hmmmmffftt.. Katanya hanya beroperasi saat weekend.

Green Valley Resort Baturaden2

img1460861278181.jpg

img1460861433101.jpg

Mini waterboom

Hotel ini dekat dengan objek wisata Baturaden, bisa jalan kaki juga. Catatan yang harus diwaspadai adalah, dekat tapi NANJAAAAKKK.. Nah!! Apalagi rombongan kami didominasi oma-oma yang kadang suka merasa sok kuat (termasuk saya). Pe-eR banget yakan?? Baru seperempat jalan, kami memilih mutasi ke angkot! *elus-elus betis*. Yaaaaa, darepada kita disuruh gendongin satu-satu ya pak, buk?!? Kalau anda dalam jumlah banyak, angkotnya bisa dicarter dengan kesepakatan biaya sebelumnya. Murah koq! Hihihiiii..

Overall, kelebihan hotel ini menurut saya:

  • Homy dan comfy bangeeett
  • Staffnya lumayan ramah
  • Cafe dan lobbynya enak buat nongkrong-nongkrong
  • Area parkir luas
  • Dekat dengan objek wisata dan pasar Baturaden
  • Terletak di pinggir jalan besar
  • Rate tidak terlalu mahal
  • Cocok untuk keluarga dengan anak kecil

Kekurangannya adalah:

  • Wifi hanya di lobby
  • Kamarnya hanya 35, jadi kalau untuk high season saya usulkan booking jauh-jauh hari
  • Kolam renangnya agak kotor dan airnya dingin
  • Mini waterboomnya tidak beroperasi
  • Proses checkin lama
  • Jarang tukang jajanan di sekitar hotel (sebagai omnivora yang gak bisa berhenti ngunyah, ini jadi pergumulan besar bagi saya. Heheee)

Buat yang mau jalan-jalan ke Baturaden sama keluarga, pastinya saya merekomendasikan hotel ini. So, para family vacationers yang bosan dengan hotel-hotel urban, hotel ini cucok bangeeettt. Untuk para honeymooners gimana? Cocok jugaaaaa..

Green Valley Resort Baturaden5

 

Green Valley Resort Baturaden

Jl. Raya Baturaden Km. 8, Baturaden, Purwokerto, Indonesia

Phone (+62281) 681123

Fax (+62281) 681590

 

Air Terjun Sri Gethuk merupakan salah satu objek wisata alam yang terletak di Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Air terjun ini berada di tepi Sungai Oya.

Air Terjun Sri Gethuk juga disebut sebagai Air Terjun Slempret. Nama Slempret sendiri berasal dari legenda yang ada di Desa Bleberan. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, air tejun ini merupakan pusatnya para jin dengan pimpinan Jin Anggo Menduro.

Air terjun ini bermula dari tiga sumber mata air: Kedungpoh, Ngandong, dan Ngumbul. Ketiga sumber mata air tersebut mengalir menjadi satu dan membentuk butiran-butiran air yang jatuh dari tebing bebatuan karst yang tandus.” ~from: Wikipedia

Air-Terjun-Sri-Gethuk-Gunungkidul

Ciamik ya foto air terjunnyaaa.. Sebelum anda terlanjur kagum, saya ngaku dulu bahwa ini bukan foto saya. Hahaaa.. Dapet minjem disini

Selain pantai, ternyata daerah Gunungkidul juga menyimpan satu objek wisata air terjun. Sejujurnya, saya bukan termasuk golongan penikmat air terjun. Lahir di Bandung yang notabene dikelilingi pegunungan dan hampir ada curug (air terjun) di setiap gunungnya, membuat saya cukup terbiasa dengan pemandangan sejenis. Paling yang membedakan adalah debit air dan ketinggiannya saja. Maka ketika salah seorang teman mengusulkan ke Air Terjun Sri Gethuk ini, ekspektasi saya juga biasa saja. Mari kita buktikan apakah ekspektasi saya tepat atau tidak..

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul1

papan info

Perjalanan dari pusat kota Yogyakarta sekitar 45 -60 menit ke arah Wonosari. Agak memakan waktu karena jalan berliku dan ada part jalanan beraspal berganti menjadi jalanan berbatu. Lulus melewati medan tersebut, tak lama tibalah kami di parkiran Sri Gethuk. Cuaca terik khas pesisir pantai lumayan tertahan dengan rindangnya pepohonan di sini.

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul5

Jalan masuk

Dari tempat parkir, kita masih harus berjalan menuruni puluhan anak tangga. Jangan khawatir untuk yang membawa balita atau lansia, karena jarak tempuhnya tidak terlalu jauh, pun tangga-tangganya sudah disemen dan tidak terlalu curam. Betis aman, vroh!

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul2

Kios-kios penyelamat perut

Tiket masuknya (kalau tidak salah) Rp.10.000,- sudah termasuk tiket ‘gethek’ atau perahu rakitan dari rangkaian drum. Kemaslahatan dompet terjaga lah yaaa.. Terus kita hanya perlu berjalan kaki sampai ke pinggir sungai, lalu biarkan gethek yang mengambil alih. Merem sebentar, lalu sampai deh ke air terjunnya. Sebenarnya bisa juga berjalan kaki untuk ke air terjun, hanya memakan waktu jauh lebih lama. Ya kita kan penganut hukum efisiensi ya buk-ibuuu…

Air terjun Sri Gethuk ini mengalir di segala musim, hanya usahakan jangan datang saat di puncak musim penghujan karena selain debit air meningkat, sungainya juga jadi coklat keruh. Di musim kemarau airnya akan lebih jernih dan terlihat hijau tosca, ala Green Canyon Pangandaran.

perahu-untuk-ke-air-terjun-sri-gethul

wujud si gethek.. Sungainya jernih, yakan yakan?? source

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul4

Sementara ketika saya datang, airnya kayak gini bentukannya. Yasalam deh..

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul3

Pergantian pemain..

Setelah naik gethek sekitar 15 menit di air sungai yang tenang, kami tiba di air terjunnya. Agak kecewa karena rame bangeeetttttt… Sampe pas abis turun dari perahu kita cuma bengong bego di pinggiran tebing. Susah dapat spot untuk mendekat ke air terjunnya jadi kami hanya sekedar basah-basahi telapak kaki di bawah. Dapet sisa-sisa aliran air dari orang-orang di atas. Hikssss.. Moga-moga gak ada yang pipis.

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul10

KEREN BANGET kan air terjunnya??? #HALU. Yakali, nyari air terjunnya yang mana aja bingung, saking banyaknya orang..

Air terjunnya sendiri tidak terlalu tinggi dan debit air yang tercurah tidak terlalu deras sehingga banyak pengunjung yang memanfaatkannya untuk pijat punggung. Air yang tercurah dari atas juga sebenarnya jernih, air sungainya yang coklat keruh.

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul6

Ini lumayan keliatan nih, tapi bapak satu di tengah itu gengges deh. Akika tungguin tapi dese gak pindah-pindah. Aaaahh!

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul7

Duh, si bapak.. Lagi-lagi.. Memang susah sih ya kalau udah nyaman, saya juga ngerti koq pak, saya pernah ngerasain yang sama. #eeehhh.. 

Berhati-hatilah dengan langkah anda karena langkah anda menentukan masa depan anda bebatuan yang dipijak sangat licin. Lebih baik melepas alas kaki, belajar dari pengalaman seorang teman yang terpeleset.

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul8

Lumayan menggelitik adrenalin nih lihat yang pada lompat dari pinggir tebingnya

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul9

Sekedar berenang-renang di tepian juga seru. Sempat juga lihat ada yang sedang body rafting.

Kendala paling utama adalah tidak tersedia transportasi umum kesini, jadi harus pakai kendaraan pribadi. Karena kemarin kami sewa mobil, jadi saya tinggal duduk cengar cengir aja, ngintil kemana-mana. Hihiiii..

Kesimpulan saya, air terjunnya sih biasa saja. Yang unik justru sensasi mengarungi sungai pakai getheknya. Yakin sih kalau airnya sedang hijau tosca dan jernih akan berasa puas banget kesana.. Jadi saran saya, pandai-pandailah memilih waktu kedatangan. Hindari musim penghujan dan musim liburan panjang. Juga hindari datang sendiri karena rerata yang datang kesini kalau gak kelompok, ya berdua dengan pasangan. Nanti mangkel sendiri yang ada. Hehehee..

Cheersss!!!

Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul11

Ketika pertama dengar nama cafe ini, imajinasi saya langsung mengarah kepada sosok Momo Geisha. Iya, gak ada hubungannya memang. Bukan juga karena Momo udah kurang undangan nyanyi hore-hore di Dahsyat makanya dia buka cafe.
image

Cafe yang tergolong baru di Bogor ini (kurang lebih setahun) membuat saya penasaran. Kata seorang teman, cafe ini selalu penuh oleh pengunjung dan rasa susu yang disuguhkannya memang enak. Sebagai pecinta susu level kerasukan, seperti ada desakan dalam hati saya yang berkata, “Ayooo, cobain! Jajaaal! Habisi diaaaa!! Jangan kasih ampun!!” *lalu kerasukan beneran*.

img1456564476872.jpg

Setelah pintu masuk, langsung disambut meja kasir. Makan aja belum kakakkkk.. Ini ilustrasinya mirip dengan mau ngajak jadian gebetan, tapi sebelum nyatain udah ditikung duluan ama temen. Iya, gitu.. Ada amin??

Datang pas jam makan siang di hari Sabtu, membuat saya harus masuk di waiting list urutan ketiga. Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya satu per satu kami dipersilahkan duduk. Dimana? Ya sedapatnya.. Masih untung dapat tempat duduk. Gak bisa sok-sok milih.

img1456569465724.jpg

waiting list area..

img1456569326455.jpg

Venuh, vroh..

Penataan interior yang apik membuat saya betah. Nuansa kandang atau peternakannya sebenarnya tidak terlalu kentara, hanya pernak-pernik dekorannya memang lucu-lucu dan bertemakan peternakan. Minimalis modern ala-ala IKEA. Bikin gatel pingin megang-megang. Tembok yang dipoles kasar dengan digambari aneka mural, menjadikannya eye catching. Di sisi lain terdapat rak buku untuk bacaan selama menunggu dan dihuni oleh mayoritas buku cerita anak.

img1456574912319.jpg

img1456576251446.jpg

Terdapat ruang terbuka hijau di bagian tengah bangunan, dimana ditanami rumput alami yang terpangkas rapi. Di pinggir ruang terbuka ini diletakkan sebuah sepeda ontel tua, dan sumur buatan di tengah-tengahnya. Instagram-able deh, cocok untuk foto ala-ala. Yang menarik lagi, para waiter/waitress-nya memakai baju model overall atau baju kodok seperti di peternakan. Jika dari bagian penyajian sudah siap menghidangkan, mereka akan memberikan kode berupa teriakan dan dijawab “Moooooo” oleh para waiter/waitress-nya. Lucuuu, walaupun agak berisik. Heheee..

img1456575876143.jpg

img1456571301095.jpg

Katanya, Momo Milk ini mempunyai peternakan sapi sendiri, seperti…. Duh ini boleh gak sih nyebutin nama kompetitornya?? Sebut saja Cimo*piiiiipp*. Tau kan?! Yakan yakan?? Yang di Puncak itu lhooo.. Tapi mereka beda konsep. Kalau Cimory (lalu malah disebutin! APA-APAAN???) selain menjual produk olahan susu, dia juga menjual pemandangan makanya ada yang riverside dan mountainview. Kalau Momo Milk, dia jual olahan susu dan mengunggulkan lokasinya yang strategis di tengah kota. Sama-sama jual olahan susu, sama-sama punya peternakan sendiri, hanya yang satu menjual view, yang satu menjual lokasi. Udah yaaa, cukup perbandingannya. Tau koq saya juga kalau dibanding-bandingin itu rasanya gak enak. Laaahhh?? Bahas tempat makan, bukannya laper malah baper.

Signature menu yang wajib dipesan disini tentu saja fresh milk-nya, yang disajikan di gelas transparan berleher panjang. Dan percayalah, varian rasanya banyaaaaakk.. Ini kalau saya sebutin satu-satu, keburu lahiran sapi-sapinya.

img1456579809010.jpg

Pesanan saya, banana fresh milk dan strawberry yogurt. Susunya enak, yogurtnya biasa. Kurang asam sih kalau kata saya..

Selain menjual aneka produk olahan susu seperti yogurt dan milkshake, mereka juga menjual aneka western food, aneka roti bakar, mie ayam, nasi goreng, siomay, batagor, sampai kopi. Buat saya yang termasuk peminum kopi amatiran, kopi mereka cukup enak. Enaknya gimana? Ngga tau, pokoknya enak aja. Hahahaa.. (informasinya nanggung, pembaca kecewa. Huuuuuuu..).

img1456580260928.jpg

Chicken Cordon Bleu.. Rasa lumayan, tekstur dagingnya masih berasa juicy dan luarnya garing, rasa saucenya pas, hanya porsinya uhukkk kurang nampol, uhuuukkk.. Ya ini sih menu penggembira aja sih kalau buat saya

img1456580095935.jpg

img1456580976046.jpg

Yakalo cordon bleu aja hanya semacam cemilan buat saya, apalah arti roti-roti manis nan mungil yang tidak berdaya ini?? Mereka butuh ditolong sepertinya.. *HAAAAPPP!!!!*

Opini saya sih ya, enakan sore-sore atau malam ke sininya, karena kalau makannya siang-siang, selesai makan, baru keluar lima langkah udah laper lagi.. Atapnya yang bermaterialkan seng membuat udara panas di luar seperti terserap, entah karena memang sekeliling bangunannya terbuka. Saya gak ngerti sih perihal struktur ruang, bahan bangunan, atau sisi fengsui, tapi saya bisa lah bedakan mana gerah dan mana sejuk. Sekian.. *yakaliiiiii, anak TK juga tau keleussss*.

img1456576515536.jpg

img1456577002369.jpg

Sebagai tukang makan sejati, saya cukup merekomendasikan tempat ini. Boleh laaaahhh… Leh uga… Saya suka, saya suka!

img1456574223275.jpg

Sedikit bocoran menu.. Harganya masih reasonable koq

Momo Milk Barn
Alamat: Jl. Kantor Pos no.6, Baranangsiang, Kota Bogor-Jawa Barat
Telepon: (0251) 8387303
Jam operasional: 10.00-22.00 BBWI

 

 

CIEEE CIIIIEEEEEEEEE…

Yang udah bolak balik mampir nunggu postingan baru niiihhh..

Ciyeeeeehhhh!!!

Hahahahaaaaa..

*dikeplak berjamaah*

 

Akhirnya yah, ada postingan pertama di awal tahun 2016!! Iya, saya gagal mempertahankan konsistensisasi *halah* karena bulan kemarin tidak ada satu postingan pun yang terpublish. Hehehe.. Ya mangap, sibuk kakaaakk..

Kesadaran ini disponsori oleh banyaknya notifikasi di email saya yang masuk setiap hari tentang pemberitahuan postingan baru dari sesama rekan-rekan travel blogger. Malu vrooohh, maluuuu.. Hidup di usia produktif tapi gak produktif. Malu sama umur.. *Trus malah curcol aja, gak ada yang dibahas*

Bahas pantai yukkkkk!!

Anda ngga ‘yuk’ juga saya akan tetap bahas.. Iyain aja yahhhh..

Desember kemarin, saya and the gank #DDCPK mengadakan trip ke Yogyakarta. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Pantai Wediombo di daerah Gunung Kidul, DIY. Tempat ini sudah mencuri perhatian saya sejak seorang teman pernah merekomendasikannya. Dari tercurinya perhatian tersebut, saya mulai mencari informasi lebih lanjut demi menjaga kedekatan hubungan kami.

img_20151227_110653.jpg

“Lokasi Pantai Wediombo terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta – Koordinat GPS: 8°11’4″S 110°42’28″E” – from google.

Jalanan untuk mencapai tempat ini sudah lumayan bagus, tidak se-off road waktu mau ke Pantai Pok Tunggal (yasalam jadi keingetan, ke Pok Tunggal setahun lalu aja belum dibahas. Hahaaa.. Ra uwis-uwis). Sesampainya di parkiran, kami harus melewati puluhan anak tangga yang menurun untuk sampai ke pinggir pantainya. Tangganya sudah bagus, rapi, dan di sebelah tangga ada jalur khusus untuk dilewati sepeda motor. Tersedia jasa ojek jika anda enggan otot betis anda mengencang.

img1452181072164.jpg

Jalan masuknya…

Seperti kebayakan pantai di kawasan Gunung Kidul, pantai Wediombo juga berpasir putih. Tidak halus seperti tepung sih, masih agak kasar karena ada campuran karang, tapi tetap cantik koq.. PAS berpadanan dengan lautnya yang masih biru jernih.

img1452183876869.jpg

img1452184014426.jpg

Kece, yakan yakan??

Di batas bibir pantainya banyak terdapat sampah alami dari akar pohon dan ranting. Sedikit menimbulkan kesan kotor tapi masih bisa diterima, mungkin juga karena sudah memasuki musim penghujan. Yang membuat tidak betah adalah sampah-sampah plastik bekas makanan yang berserakan di pinggiran!! Plis deeehh, mana yang katanya berpendidikan, yang katanya beradab, yang katanya cinta lingkungan, yang katanya sayang aku?? *inhale, exhale, inhale, exhale*. Kelihatan loh karakter anda dari hal kecil seperti itu. Zumpah!

img1452184195735.jpg

Apa anda berpendapat segini bersih? Ndasmu! Ke sebelah kirinya lebih messy lagi..

Yang menjadi icon dari pantai ini adalah batu-batu karangnya dan adanya kolam-kolam alami yang terbentuk di sela karang-karangnya. Apa sih istilahnya? Bathtub alami ya kalau gak salah?? Atau laguna?? Bisa dipakai berendam-berendam gitu. Lucu deh..

img1452184911981.jpg

Keuntungan dari terdapatnya karang-karang tersebut adalah pengunjung dapat memancing ikan yang terjebak diantara karang. Katanya kegiatan itu yang sekarang lagi heitz disana.

img1452184488697.jpg

Selain memancing dan bermain air di pinggir pantai, ombaknya yang lumayan besar juga bisa digunakan untuk surfing. Konon begitu katanya.. Kenapa konon? Karena saya tidak melihat satupun orang yang sedang surfing saat itu, pun penyewaan papan surfing juga tidak nampak. Apa hanya saya ya yang tidak melihatnya?? Hih!

Pantai ini menghadap ke barat, sehingga cocok buat anda yang ingin hunting sunset / matahari terbenam. Kalau anda tanya barat sebelah mana, hahaha lawannya timur deh! Nanya arah ke saya bisa dikategorikan sebagai suatu pekerjaan yang sia-sia, soalnya saya sendiri suka disorientasi lokasi.

img1452184664124.jpg

Sejujurnya menurut saya, pantainya sendiri tidak terlalu luas karena saya masih dapat melihat batas terluar sisi kiri dan kanannya, dimana pada batas-batas tersebut terdapat semacam hutan mini yang bisa digunakan untuk tracking atau hiking. Masih menurut saya, pantai ini lebih tepat jika disebut teluk. Teluk ya, bukan peluk! Suka ada yang baper sih baca kata-kata gini doank, padahal cuma mirip. Etapi itu opini pribadi aja sih, CMIIW..

img1452184401775.jpg

Fasilitas yang tersedia sudah cukup lengkap, seperti adanya lahan parkir, musholla, kamar mandi, WC, juga ada penyewaan tenda jika anda memutuskan ingin bermalam di sini.

Sekian yaaaa bahasannya… Kalau ke Gunung Kidul mampir-mampirlah kemari. Gak nyesel dehhh!

 

Note:

– Pastikan wajah dan tubuh anda terlumuri sunblock sebanyak-banyaknya karena panasnya naujubilah, terik banget! Apa saya yang salah timing ya?

– Nomor Simpati saya sinyalnya terjun bebas di sini, gak dapat sinyal. Entah ya kalau provider lain. Jadinya gitu deh, Yogyakarta rasa Zimbabwe selama disana!

– Harga tiket masuknya Rp. 5.000,- per orang. Gak bikin pembuluh dompet tersumbat, yakan?? Aman vroh..

– The last: plis pliss plissss, jangan nyampah seenak jidat! Apa susahnya sih sampahnya dibawa dulu, trus sewaktu nemu tong sampah baru dibuang?? (Trus ada yang tanya, emang jidat enak?! Yakaleeeeee…)

img1452180222760.jpg

Tumpukan botol plastik deket parkiran. Gerah liatnyaaa..

 

*CHEERSSSSS*

 

 

 

Kado yah, bukan kode.. Dan inipun bukan kode minta dikadoin. Kalo minta kado sih terang-terangan aja, gak usah pakai kode.. Ini mau bahas apa sih sebenernya?? Hhmmffftttt…

Here we go!

Siapa sangka Bekasi yang sering dibully karena panas, gersang, macet, dan lebih jauh dari matahari itu menyimpan satu tempat yang bisa membawa kita seakan sedang tidak berada di Bekasi??

Terletak di kawasan industri EJIP, dimana kawasan ini dihuni oleh pabrik-pabrik raksasa yang rata-rata brand Jepang & Korea, menjadikan tempat ini agak sedikit ketilep *ketileeeepp* *dilempar KBBI*.

Dilihat dari pinggir jalan raya, kadang orang tidak ‘ngeh’ bahwa tempat itu ada *sama kayak kamu yang suka dianggap gak ada sama gebetanmu kan? pukpuk*. Hal ini dikarenakan di sebelah kanan pintu masuk terdapat pabrik jamu, sehingga orang berasumsi bahwa itu hanyalah kawasan industri seperti pada umumnya. Andaikan mereka mau mengkaji lebih jauh, ternyata ada sepotong ‘surga kecil’ terselip di dalamnya *koq terselip sih bahasanya? Kek sisa makanan, terselip di gigi*.

IMG_20151003_122146

Sejak pertama datang, tempat ini (KaDO-Kampoeng Djamoe Organik) langsung menjadi salah satu tempat favorit saya. Awalnya saya agak under estimate juga, bayangan Bekasi yang panas dan gersang tetap lekat di ingatan saya. Tapi ternyata keasriannya mampu meluruhkan kesangsian saya *deuuuh, bahasa loe Terrrr!!* Susah dipahami!

IMG_20151003_122356

Siang itu, tidak terlalu banyak orang yang datang, paling hanya 4 hingga 5 mobil. Yang pertama menyambut saya adalah plang selamat datang dan pepohonan yang berbaris rapi di sepanjang track untuk berjalan. KaDO ini bernaung di bawah management Martha Tilaar *cieeehh, bernaung vroh! Kek arteeesss*.

IMG_20151003_123029

“Saung Penerimaan Kamu Apa Adanya

IMG_20151003_122955

KaDO merupakan lahan hijau dengan konsep taman organik yang terletak di kawasan kota Cikarang dengan areal seluas 10 ha yang cukup strategis dan mudah dijangkau.

Pada awalnya berupa kebun yang menyediakan koleksi tanaman obat, kemudian KaDO mulai difungsikan sebagai pusat pendidikan lingkungan karena memiliki berbagai koleksi tanaman obat asli Indonesia (ada sekitar 600 species tanaman) yang dibudidayakan secara organik selaras dengan alam.

Di area pasca panen juga terjadi proses penanganan bahan baku tanaman hasil panel hingga menghasilkan bahan yang berkualitas dan berstandar.(dapet ngutip, vroooh!)

IMG_20151003_123514

Selain sebagai tempat pendidikan lingkungan, tempat ini juga dibuka untuk umum sebagai area rekreasi bagi keluarga, terutama keluarga dengan anak kecil.

img1444311768628

img1444312602587

Ada binatang-binatangnya juga..

Mengusung hal tersebut, maka berbagai fasilitas pun disediakan, seperti resto yang menyuguhkan aneka makanan sehat tradisional dan tanpa MSG, kebun koleksi tanaman obat, kolam, rumah kayu ala Manado yang rencananya akan dijadikan tempat spa, musholla, area bermain anak, penyewaan sepeda, saung-saung, pendopo bergaya Sunda dan Bali yang dapat digunakan untuk tempat pertemuan, serta area parkir yang luas.

img1444312934254

bagian atasnya

img1444312832384

bagian dalamnya, yang katanya akan dijadikan tempat spa

Jalan setapak untuk mengelilingi kawasan ini juga sudah disemen, walau masih ada beberapa berupa petakan dan jalan berbatu. Sedangkan di samping kiri dan kanan pedestrian dipenuhi dengan Tanaman Obat dan KosmetikA (Toka) sebanyak 650 jenis tumbuhan.

IMG_20151003_125544

Kawasan Toka dibagi menjadi Aromatic Land (tanaman-tanaman dengan aroma khas seperti pandan, kamboja, kayu putih, lavender, dll) dan Beauty Land (tanaman-tanaman untuk pemeliharaan kecantikan seperti pohon jati belanda, temu giring, jahe, dll). Sayangnya, beberapa kali saya kesana tanamannya banyak yang layu, efek kemarau panjang beberapa waktu lalu.

img1444312365956

kolamnya juga keriiiiinng..

img1444311463583

img1444312170091

aneka jamu dan minuman herbal lainnya..

Di bagian belakang terdapat Martha Tilaar Training Center (MTTC) yang berfungsi untuk melatih para therapist sebelum ditempatkan di gerai-gerai Martha Tilaar. Bagi pengunjung yang ingin belajar pengetahuan tentang perawatan-perawatan tubuh juga bisa, tapi harus reservasi dulu sebelumnya dan biasanya harus dalam rombongan.

Saya suka desain bangunan MTTC ini, karena dibentuk seperti rahim seorang wanita, yang memiliki filosofi sebagai tempat bermulanya kehidupan. Kewl! Ornamen bambu dan kayu pada bangunan ini juga cukup mendeskripsikan konsep ramah lingkungan.

Kalau kesini, saya paling suka nangkring-nangkring manja di saungnya sambil makan, ngemil, tidur-tiduran, denger suara burung, ditambah semiliran angin. Aaaaaaahhhh surga! Pohon-pohonnya yang rindang membuat teduh dan betah berlama-lama di sana sama kayak kepribadian kamu yang bikin aku teduh dan betah *tsahhh!!*. Oya, tempat ini juga bisa dipakai untuk outing atau fieldtrip anak sekolah, karena termasuk objek wisata alam plus wisata edukasi.

Jadi, kalau mau kasih kado ke orang yang kamu sayang, ajak wisata ke KaDO ini ajaaaa.. Yuksss! Daripada ngemol, mending ngejamu. Daripada ngegalau, mending ngehalau penat. Daripada liatin gadget mulu, mending liat yang ijo-ijo. Daripada eksis di sosmed, mending eksis di alam. Dikit-dikit update status, dikit-dikit posting. Hmmffftt.. Kakak gw sih suka gitu. Eh, gw juga denk… Kadang. Hihihiii..

IMG_20151003_151354 1

IMG_20151010_142002

Sekian promosi kali ini..

Disclaimer: postingan ini tanpa ada paksaan, tanpa ada pesan promosi terselubung (lha wong saya terang-terangan gini promosinya), dan tanpa digaji. Hikssss.. Semuanya atas dasar ketulusan aja koq, biar kamu gak ngerasa ketulusan kamu ke aku sia-sia. Eeeehh??

 

 

“Explore The Wonder of Indonesian Traditional and Natural Heritage”

Kampoeng Djamoe Organik – Martha Tilaar

Jl. Ciujung, Kawasan Industri EJIP Pintu II, Cikarang Selatan-Jawa Barat

Telp. 021-70110076, 021-91828384

www.kampoengdjamoemarthatilaar.com

Jam buka: 08.00-16.30, hari Minggu / hari besar tutup.