Archive for March, 2014

Unspeakable Story

Posted: March 27, 2014 in Journey of life

anti-abortionIbu, aku sangat nyaman berada disini.. Aku merasa hangat, cairan-cairan sekelilingku juga melindungiku dari benturan. Taukah kau, sekarang tangan dan kakiku sudah mulai terbentuk walau belum sempurna. Salah satu kegemaranku ialah menghisap jempol. Terima kasih ibu atas kenyamanan ini.

Ibu, apakah suaraku terlampau pelan sehingga kau tidak mendengarnya? Sering aku memanggilmu tapi kau tidak bereaksi. Ah, mungkin suaraku masih belum bisa terdengar. Atau, adakah kau merasakan gerakan tanganku? Adakah kau merasa tendangan kaki kecilku? Hanya itu yang bisa kulakukan untuk memberitahumu bahwa aku ada, aku hidup walau aku baru berumur 6 minggu.

Ibu, maaf akhir-akhir ini aku membuat badanmu pegal-pegal. Maafkan pula sejak ada aku, badanmu terus membengkak. Aku tau kau tidak suka hal itu. Sering aku mendengar gerutumu, sering aku mendengar kemarahanmu atas diri sendiri. Aku menangkap adanya nada keputusasaan dari suaramu. Apa kau baik-baik saja?

Ibu, siapakah pria yang membentakmu barusan? Apakah orang yang sama dengan yang kudengar suaranya kemarin? Aku tidak suka dia sejak pertama mendengar suaranya. Nadanya begitu ketus, pemarah. dan bicaranya sangat kasar. Apakah dia ayahku? Ah, semoga saja bukan.

Ibu, mari kita berandai-andai. Apa yang akan pertama kali kau lakukan saat aku lahir? Adakah kau akan langsung menciumku? Apa kau akan mengelus kepalaku? Atau malah kau tersenyum sambil berlinang air mata? Apakah aku akan mirip engkau? Apakah sifatku akan sepertimu? Ah, aku tak sabar menanti saat itu.

******************

“Baik, sebentar lagi segera kita mulai. Apakah anda sudah siap?”, kudengar suara pria, kali ini berbeda dengan yang pernah kudengar sebelumnya. Tidak kasar, tidak pula dengan nada ketus, tapi nadanya begitu dingin. Siapa dia? Aku bertanya-tanya dalam hati.

“Iya dok, saya sudah siap. Tapi, anda yakin ini akan aman dok? Maksud saya, adakah efek samping setelah semuanya selesai?”, kali ini kudengar suaramu ibu. Tapi kedengarannya tidak seperti biasa, suaramu terdengar parau dan penuh kebingungan. Apakah kau sakit ibu? Apa kau baik-baik saja? Kuharap kau baik-baik saja. Tapi mengapa aku jadi begitu gelisah? Ah, perasaan apa ini? Sangat tidak nyaman kurasakan.

“Iya, pasien-pasien yang lain biasanya sudah bisa langsung pulang selang 12 jam. Tergantung kuat tidaknya fisik orang tersebut. Jangan kuatir bu, andaikan ada apa-apa pun, anda dikelilingi orang-orang medis dengan peralatan yang cukup lengkap. Sudah siap ya, saya akan segera mulai”, kudengar lagi suara pria asing tadi, masih dengan nada datar dan dingin. Siapa dia sesungguhnya? Apa yang akan diperbuatnya terhadapmu ibu??

Pikiranku melayang-layang menerka yang kira-kira terjadi di luar sana, sembari aku sibuk menenangkan perasaanku yang tiba-tiba gelisah tanpa aku tau sebabnya. Belum pula perasaan itu mereda, samar-samar aku melihat sebuah benda runcing mengkilat masuk ke tubuhmu. Ibu, apakah itu? Tidakkah kau merasa sakit?! Apa yang hendak dilakukannya terhadapmu?!?

Benda itu semakin maju dan maju mendekatiku, menembus selubung yang melindungiku, merobek salah satu sisinya dan membuat cairan yang melindungiku membuncah keluar. Aaaaah, apa yang dilakukannya?! Tidakkah dia tau tanpa cairan itu aku akan merasa kedinginan?!? Tolong ibu, aku takut!!

Seakan belum puas, lalu alat yang berbentuk seperti gunting itu mulai mendekatiku. Mencoba mencapit kakiku, mencoba mencabik-cabik dagingku. Dengan liarnya dia bergerak kesana kemari, aku semakin terpojokkan, tak ada ruang lagi untuk ku bisa melarikan diri. Bagaimana ini?? Dia mengenai kakiku. Awwww, sakit!!! Kulihat darah berhamburan di sekelilingku. Tolong ibu, aku kesakitan, aku takut!!! Aku menjerit sekuatku, walau aku tau suaraku tidak akan terdengar. Sedetik kemudian dia mencabik-cabik badanku, tanganku, memutuskan kepalaku. Di tengah keputusasaanku aku mulai kehilangan kesadaran. Kemudian aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi.

******************

Itukah kau ibu, yang terbaring lemah bersimbah darah di ranjang itu? Mengapa banyak sekali orang yang mengelilingimu? Tangan mereka pun bersimbah darah, ada pula yang sampai mengenai jubah hijau mereka. Aku ngeri melihatnya.. Mereka kah yang mengoyakkan dagingku, mencabik-cabik tubuhku, sekaligus juga menghancurkan harapan hidup dan masa depanku? Mengapa bisa begitu ibu? Yang kutau, hanya Tuhan yang berhak menentukan awal dan akhir hidup seseorang.

Jujur aku kecewa padamu, tapi aku akan tetap menyayangimu ibu. Terima kasih telah meminjamkan rahimmu padaku walau hanya untuk waktu yang sebentar. Terima kasih atas kehangatan yang kau berikan selama itu. Terima kasih karena telah memilih mempertahankanku pada awalnya, walaupun akhirnya berbeda dengan yang kuharapkan.

Mungkin aku tidak akan pernah bisa merasakan belaian lembutmu atau dekapan hangatmu. Mungkin aku tak akan pernah bisa mendengar suaramu lagi. Mungkin aku tidak akan bisa menemanimu lagi di hari-hari hidupmu. Aku akan merindukanmu ibu, dan doaku akan terus kupanjatkan untukmu. Tak usah khawatirkan aku, aku sudah di tempat yang indah sekarang, dengan sosok-sosok yang berjubah putih dan bersayap mengelilingiku, menjagaku. Mereka sangat baik kepadaku. Jadi kumohon, jangan kuatirkan aku. Teruslah berusaha hidup benar ibu, agar kita bisa kembali bertemu kelak. Aku sudah memaafkanmu..

Love you always,

 

-your unborn baby-

 

652907fda09c17e1213889df670fea1a

“Sebelum AKU membentuk engkau dalam rahim ibumu, AKU telah mengenal engkau,
dan sebelum engkau keluar dari kandungan, AKU telah menguduskan engkau..” -Yeremia 1:5a

“Sebab ENGKAUlah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-MU oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak telindung bagi-MU, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-MU melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-MU semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” -Mazmur 139:13-16

1962704_672438292815395_208398071_n

 

 

*Disclaimer: 

Cerita serupa pernah saya baca berbelas tahun yang lalu dan saya tidak dapat menemukan sumber aslinya untuk disertakan, jadi saya hanya mengingat-ingat dan menuliskannya kembali sesuai imajinasi saya.

 

Advertisements

Dia

Posted: March 15, 2014 in Poem-poem an

Tempat ternyaman adalah…

Dekapanmu yang selalu siap membenamkan aku di kehangatan,

Tanganmu yang selalu ada mengusap lembut isak tangisku,

Harummu yang selalu mampu membius akal sehatku,

Gagahmu yang selalu teduh melindungiku dari kerasnya dunia..

 

Aku menikmatinya. Sungguh…

Aku nikmati setiap hangat sapamu,

Aku aman dalam naungan dirimu,

Aku melantur dalam cumbuan manismu,

Aku terbuai dalam panas geloramu..

 

Tapi ada kalanya aku jenuh denganmu…

aku ingin berlari dari bayang-bayangmu,

aku benci terkungkung olehmu,

aku tidak tahan dengan kebisuanmu,

aku muak akan bau dan kotor dakimu..

 

Aaaah nampaknya sudah saatnya kau kucuci, jaketku..

Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines, sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sail. Explore. Dream. Discover.

-Mark Twain-

wpid-quote-about-travel-012111

Lalukanlah Cawan Itu

Posted: March 8, 2014 in Poem-poem an

Lelahkah kau, matahari? Berabad kau berpendar tanpa pernah alpa sekalipun..

Bosankah kau laut? Sepanjang hari hanya mencipta ombak lantas memecahkan buihnya di pantai..

Hampakah kau, awan? Sehingga kau hanya pasrah bergerak kesana kemari seturut angin membawamu..

Malukah kau bintang? Saat titik malam berpusat pada bulan dan orang memandang takjub padanya, sementara kau hanya hiasan pemanis disampingnya..

Penatkah kau gurun? Di tengah kesepianmu, hanya pada fatamorgana abadi bisa kau pahatkan kisahmu dengan sang surya..

Letihkah kau semesta? Mengemban tugas, bertaruh nyawa demi menopang semua jagat raya di pundakmu..

Marahkah kau, bumi? Diinjak berjuta-juta manusia lalu mereka menjarah habis hartamu dengan tangan tamaknya..

Dan jemukah Engkau, Tuhan? Melihat manusia bercengkrama dengan khianat, berteman dengan laknat, dimana kedegilan jadi kebanggaannya, namun mereka lupa hari-hari hidupnya berlalu buru-buru..

Maafkan kelancanganku mencoba menggambarkanMu.. Tahanlah cawan amarahMu, Tuhan..

Untuk sesaat..