Archive for September, 2014

Istana Bogor

Istana Bogor

Salah satu tempat wisata alam di Bogor yang juga jadi icon kota Bogor yaitu Kebun Raya Bogor. Didorong rasa penat ngemol di sekitaran Jabodetabek, gw membulatkan tekad mengunjungi KRB ini. Mainstream banget ya? Iya emang. Hahaaa.. KRB ya, bukan ARB. Ntar saya dijejelin lumpur.. 😛

Demi kesejahteraan diri sendiri yang udah mabok ama kesemrawutan Jakarta, merapatlah gw ke Bogor sekedar untuk cari yang ijo-ijo. Selain itu akuh pengen liat bunga bangkai yang tersohor itu. “Yaemang sih Bogor juga suka macet, tapi se-engganya udaranya masih lebih adem deh. Kali-kali juga lagi ngga rame,” pikir gw. Ternyata harapan gw harus pupus. Sebelum keluar tol, kepadatan sudah terlihat. Setelah keluar tol, cobaan bertambah: orang yang lalu lalang, tukang jualan yang hilir mudik, motor yang salip kiri-kanan, belum lagi angkot yang nyetirnya brutal sebrutal-brutalnya, menciptakan pencobaan masing-masing untuk dihadapi. Agak susah dapet spot nyetir yang manusiawi. Ini kenapa sejuta umat harus ke Bogor juga pas gw ksana sih??

Setelah mengelilingi Istana Bogor sebanyak 4x (!!!) akhirnya ketemu juga itu pintu masuk KRB. Pintu masuknya agak ke dalem gitu dan di sebelah luarnya banyak tukang-tukang jualan (Indonesia banget ya!), jadi ngga terlalu keliatan dari jalan raya. Patokannya ya Istana Bogor itu, karena Istana Bogor dan KRB bersebelahan. Yang bikin ngga nyaman lagi adalah area parkir yang sangaaaaaat minim (seminim bikini Paris Hilton). Pas lihat kita lagi kesulitan cari parkir, seorang tukang parkir dengan hot-nya manggil-manggil. Dia nunjukkin satu spot parkir yang dari tadi juga sebenernya udah gw liat, tapi feeling gw bilang sih ngga muat.

“Ngga cukup kayaknya, pak!”

“Muat muat, coba aja dulu.”

Dengan ‘harapan’ yang dia ciptakan itulah, kita coba parkir di situ. “Terus, terus! Kiri dikit! Kanan! Mundur!” kata bapaknya.

“Ya, maju lagi. Lagi!! Terus, terus, terus, teruuuuss!!”

TERUS NDASMU?!? Ini moncong mobil udah jarak 2 cm doank ama mobil depan!

Ya namanya juga harapan palsu, udah geser kiri-kanan-depan-belakang-nungging juga tetep aja ngga muaaaaat. Akhirnya kita memilih ngga parkir disana. Yaabes bapak parkirnya markirin seolah mobil-mobil yang lain invisible cobaaaa.. Daripada daripada..

Setelah dapet parkir yang lebih layak, kita masuk ke area KRB. Beli tiket dulu, harganya Rp. 14.000,-. Begitu masuk langsung dihadapkan dengan persimpangan, ke kiri atau ke kanan. Aaaahh, penuh perjuangan sekali hidup ini. Di tengah-tengah persimpangan ada peta KRB. Sejujurnya sih petanya ngga terlalu jelas juga, ini apa, itu dimana, kayak peta buta jadinya. Gw cari-cari dimana letak si Rafflesia Arnoldi itu, di peta sih cuma belok kiri, trus kanan, trus serong kiri. Udah..

setelah belok kiri dari persimpangan pintu masuk, nemu jalan mulus ini..

setelah belok kiri dari persimpangan pintu masuk, nemu jalan mulus ini..

jalan mulus tadi nembus ke sisi kiri Istana Bogor, dan bagian belakang istana dapat kita lihat langsung dari area KRB

jalan mulus tadi nembus ke sisi kiri Istana Bogor, dan bagian belakang istana dapat kita lihat langsung dari area KRB

KRB ini luasnya sekitar 87 hektar dan di dalamnya ada 15.000 jenis tumbuhan. Dibangun pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi oleh gubernur jenderal Belanda yang tinggal di Istana Bogor saat itu, Thomas Stamford Raffles. Menurut peta itu juga, harusnya di dalamnya ada Rumah anggrek, cafe, museum Zoologi, penyewaan sepeda, dan sewa kendaraan keliling, tapi gw ngga nemuin satu pun. Kenapa cobaaaa, KENAPA??? (Kadang hidup memang tak adil nak!)

_DSC7574

Setelah jalan cukup jauh (ngga sedekat yang terlihat di peta), gw sampai di suatu bagian yang ada kolam dan terdapat air mancur di tengahnya. Istirahat dulu, sambil liatin orang-orang yang pacaran di sekeliling kolam itu *ngunyah daun*. Selesai ngaso, bertanyalah gw ama bapak-bapak petugas kebersihan disitu. Dia bilang tempat bunga bangkai masih ke sebelah dalem lagi *sambil nunjuk arah jam 11*. Hapaah, ini aja udah kayak hutan pedalaman yang pohon-pohonnya rapet ngga tembus sinar matahari! Agak ragu-ragu ngelangkah ke arah yang ditunjuk si bapak, soalnya suasananya sepi dan gelap. Tapi penasaran.. Akhirnya gw beraniin jalan sambil clingak-clinguk. Rasa hati ngga enak, apalagi setelah lewatin satu makam. Jalan lagi cukup jauh, trus ketemu ama bapak kebersihan yang lain lagi dan gw pun bertanya kembali keberadaan si bunga tadi.

“Waaah, bunga bangkainya lagi ngga berbunga, Neng, kalo sekarang sih. Masih nguncup,” kata bapaknya.

DHUARR!!

“Oooohhhh,” gw ngangguk-nangguk sambil senyum dengan muka pasrah.

Ya kali dari tadi dibilanginnya..

Bukan gw namanya kalo jadi desperate gegara misi ngga kesampaian. Masih bisa nikmatin suasananya yang tenang dan hawanya yang sejuk koq, walaupun di beberapa tempat terasa aura mistis. Inih beneran.. Ngga bisa dijelasin, tapi kerasa. Ngga sengaja juga nemu cerita supranatural tentang KRB ini disini dan beberapa spot angker di KRB dari bahasan ini. Untungnya gw tau setelah dari sana. Apalagi kalo udah menjelang sore, suasana mencekamnya sungguh nyata. *telen ludah*

 

ini emang pengunjungnya sedikit ato tempatnya yang kegedean sih?? koq sepi..

ini emang pengunjungnya sedikit ato tempatnya yang kegedean sih?? koq sepi..

Hijaunya pemandangan bikin mata jadi adem. Pohon-pohon yang berpadu dengan kolam dan danau, bikin betaaaahh

Hijaunya pemandangan bikin mata jadi adem. Pohon-pohon yang berpadu dengan kolam dan danau, bikin betaaaahh

sisi lain dari Istana Bogor yang berbatasan langsung dengan KRB. Banyak rusaaaaaa..

sisi lain dari Istana Bogor yang berbatasan langsung dengan KRB. Banyak rusaaaaaa..

Memang ngga semua pengalaman traveling itu menyenangkan, tapi ngga ada yang bisa ngalahin ‘sensasi’ kepuasan dari traveling itu sendiri. Seru kan ngerasain bagun pagi-pagi buta untuk ngejar pesawat di airport, atau nahan mual berjam-jam di kapal laut demi melihat laut biru di belahan pulau lain, atau sensasi duduk bebelas jam di kereta sambi merenungi kejamnya hidup, atau saat mata kita menjadi saksi terbenamnya mentari dengan cantiknya. Traveling is always fun, walaupun kadang ngumpulin duitnya sampe nangis darah. Ahahaaaa..

Advertisements

Hello there!

Posted: September 12, 2014 in Journey of life, Poem-poem an

Waktu bukanlah milikku, bukan juga milikmu atau milik siapapun. Seandainya waktu adalah milikku, akan kuminta ia tidak membawamu, agar kau tetap disisiku. Sayangnya tidak! Dia tidak memberiku sedikit lebih banyak seperti yang kuharap. Dia terlalu bergegas membawamu. Membawa banyak cerita yang masih hendak kurangkai esok denganmu..

Malam itu aku berdiri dalam remang, gelisah menerka-nerka. Segala daya aku coba. Segala usaha aku tempuh. Segala pinta aku rundingkan. Aku bingung. Aku gamang. Aku tak pernah begitu. Sampai kudengar kabar pasti itu, bahwa waktu telah membawamu serta. Meninggalkanku yang masih membisu disini, sampai tak kudengar hingar bingar yang menyeru disana..

Saat itu aku melangkah lemah, masih menerka apakah perkara ini menjadi nyata. Menyisakan sedikit harapan dalam periuk hati yang lalu kutahu tak diijinkanNya terwujud. IA membiarkan waktu membawamu. Banyak air mata kami yang telah kau buat kering. Saat itu kunikmati rasa seakan waktu akan terhenti selamanya..
 
Sekarang kau mungkin sudah tak kulihat lagi. Tak dapat kudengar lagi gurau canda dan tawamu. Bukan waktu yang sebentar untukku bisa mengingatmu tanpa meneteskan air mata. Waktu telah membawamu tepat sehari setelah hari bahagiamu, bahkan kadoku pun belum sempat kaubuka..
 
Happy Birthday, dad! Have a blast day up there.. We miss you so much. I mean, I miss you so much. Biar doa tulusku tumbuh di ufuk pagi, merambatkannya di ranting langit, lalu angin meniupkannya sampai di pelukmu. Doa tulus kami yang mencintaimu kan selalu menyertai. Takkan terhenti sampai waktu yang sama itu tiba menjemput, dan kamipun bersamamu..
 
Selamat ulangtaun..
 
DBC