Mengukur Batas Kemampuan di Tahura 2

Mari dilanjutttt… 😁

_DSC9682

Setelah jalan sangat santai menyusuri track tadi, sampailah kami di Goa Jepang. Pintu yang tidak terlalu lebar, gelap yang pekat, dan jalan di dalam goa yang masih beralas tanah, membuat saya agak ‘malas’ masuk ke dalam. Bukan, bukan takut, cuma males aja. Hehe ngeles.. Ngga tau tuh, bawaannya gak tertarik aja untuk masuk ke goa Jepang ini.

_DSC9695

kawasan Goa Jepang

_DSC9697

behind the story dan peta jalur di dalamnya

_DSC9696

terdiri dari 4 buah pintu masuk, dan di beberapa sisi pintu terlihat genangan air. Becyeeek!!

_DSC9702

Pintu tembusan kecil, agak ke sebelah atas bukit. Mungkin sebagai pintu rahasia atau untuk mengintai musuh

_DSC9701

ABG-ABG labil lagi rempong mutusin mau masuk ato ngga

Saya memutuskan ngga usah masuk deh, ini kan ceritanya hiking bukan uji nyali. Lalu kami kembali menyusuri track. Pemandangan yang terhampar cukup memanjakan mata. Sesekali ada pedagang makanan yang menawarkan dagangannya, mulai dari pedagang jagung bakar, ketan bakar, buah potong, es potong, cireng. Hnyeeemm!! Jajan dulu ah, karena kesejahteraan otak dimulai dari kesejahteraan perut. Eh, ngga usah dicari itu teorinya siapa.

img1419952748360

Salah satu pedagang yang saya temui. Melihat ibu ini jualan ditemani anaknya yang sedang tertidur pulas di keranjang itu rasanya gimanaaa..

Setelah jalan sekitar 100 meter dari Goa Jepang tadi, kami tiba di kawasan Goa Belanda. Untuk keterangan Goa Jepang dan Goa Belanda, baca dulu di postingan sebelumnya yah, biar nyambung kita ngobrolnya 😀

img1419953765949_1419955349251

Gambar goa di plang-nya aja udah ngeri-ngeri sedap begini cobaaaa.. Pakai efek-efek blur sgala

img1419953949364_1419955330217

Saya setuju dengan slogan di atas, kecuali untuk huruf ‘p’ pada kata ‘kreatipitas’ -.-

Lucu memang lidah orang Sunda ini, kadang kebalik-balik kalau ngomong p, f, dan v. Lidah saya yang settingannya Sundanese juga kadang begitu. Bhahaha.. Teman saya kalau manggil Val jatohnya jadi ‘Pal’ atau ‘eMpal’. Mungkin slogan tadi jika diucapkan sesunda-sundanya akan berbunyi “pandalisme tidak membuat terkenal, hanyalah kreatipitas yang tidak terfelajar” dan akan sangat cocok jika diucapkan oleh Picky Vrasetyo. 😛

_DSC9732

behind the story

_DSC9741

Val smangat 45 untuk masuk, apalagi setelah dikasih senter >.<

Setelah ber-hompimpa alaium gambreng dan dimenangkan oleh Val, masuklah kami ke goa ini dengan terpaksa. Bau pengap dan lembab khas goa menyeruak ketika kami masuk. Hanya di beberapa ruang tercium bau kelelawar.

_DSC9746

akyu tatuuuttt!!!

_DSC9749

celah kecil disamping pintu masuk utama, katanya untuk mengintai musuh

Pada langit dan dinding goa juga terlihat beberapa lumut dengan warna hijau tua. Melihat lumut itu mengingatkan saya pada satu komunitas maksa dengan nama ‘Ijo Lumut’ kepanjangan Ikatan Jomblo Lucu Imut. Ciiiihhh.. 😀

_DSC9750

Dipandu oleh aa yang skaligus merangkap tukang ojek.. Aa-nya ini sopaaan sekali, cenderung pemalu.

Jalanan di goa Belanda ini sudah disemen dan tidak berupa tanah seperi di goa Jepang. Jalanannya lebih lebar dan pengunjungnya pun lebih ramai. Sepanjang goa terdapat besi-besi pengait untuk menggantung lampu penerangan pada masa itu, atau pun untuk kabel penyambung radio. Di sepanjang jalur tengah juga terdapat rel kereta kecil yang dulu berfungsi untuk mengangkut mesiu karena goa ini juga pernah dipakai sebagai gudang mesiu oleh tentara Indonesia.

_DSC9751

Lorong kecil untuk persembunyian. Di beberapa tempat sengaja dibuat buntu ujungnya, untuk mengecoh musuh

Kalau anda tanya ada apa di dalam lorong sana, maaf saya harus jawab tidak tau, karena gelap yang teramat pekat. Ini pun hanya beberapa foto yang berhasil saya ambil ketika di dalam goa, karena shutter kamera tidak bereaksi ketika ditekan, akibat tidak adanya cahaya sama sekali jadi gak bisa fokus. Bingung deh kalimat penjelasannya..

_DSC9758

kerangka-kerangka besi ini dulunya bekas tempat radio untuk komunikasi rahasia para tentara Belanda

_DSC9757

“Ini ruang interogasi”, kata si akang-nya

Dan saya malah antusisas motoin, lupa kalau jaman dulu interogasinya pasti pakai cara sarkasme (dipukuli, disetrum, dicabuti kuku *glek*). Setelah keluar baru ngeh, berarti sama aja itu ruang buat penyiksaan. >_<”

Memang auranya juga agak gak enak di Goa Belanda ini, tapi entah kenapa kalau Goa Jepang lebih berasa mistis sehingga saya enggan sama sekali untuk masuk. Mistis ya, bukan erotis. Kalo itu sih Depe.

img1419954379310

Beberapa kali papasan ama monyet-monyet..

_DSC9772

Semakin siang, pengunjung semakin ramai berdatangan

Setelah puas meng-goa, kami memutuskan pulang. Di tengah jalan pulang ketemu bapak penjual air gula aren. Penasaran pengen nyobain, saya berhenti dulu. Bapak yang umurnya sudah hampir tiga perempat abad tapi masih terlihat gagah ini melayani pembeli dengan ramah dan kadang mengajak ngobrol dengan bahasa Sunda yang haluuuus, sampai kadang saya ngga ngerti. Sesekali dia menghisap rokok cerutu di tangan kirinya. Nangkep sedikit dari cerita si bapak, bahwasanya dia sendirilah yang tiap-tiap hari memanjat pohon arennya. Lalu saya tanya, koq di air aren ada bau asapnya? Ya karena di pohon aren banyak semutnya, jadi sebelum diambil, diusir dulu semut-semutnya pakai asap. Ya, sesimpel itu jawabannya! 😀 Entah pengetahuan saya yang kurang.

img1419952425230

Dalam segelas air aren ini terdapat tetesan keringat si bapak tua. Rasanya? Manis campur bau asap plus sedikit kecut

Mencapai setengah perjalanan pulang, Val mulai mengeluh kecapekan. Melihat gelagat yang naga-naganya akan mengancam kemaslahatan betis saya, saya iming-imingi dia dengan sebuah jagung bakar. Hasilnya?? Lupa tuh dia capeknya! Malah asik gerogotin jagung sejalan-jalan. Hahaa.. Gampang sekali dialihkan anak ini.

img1419952057585

_DSC9776

Rata-rata di tiap pohon ada papan namanya

_DSC9786

Suka sekali melihat pemandangan ini. Sebuah warung sederhana dikelilingi pohon pinus yang disusupi bau jagung bakar yang sedang dibakar di sebelah warung.. Mengingatkan saya akan rumah nenek. Entah neneknya siapa..

Gitu deh, cerita balada emak-emak yang ngajak anaknya hiking. Seru kan?! Engga?? Ah gak apa-apa.. Yang penting saya tau sampai mana batas kemampuan anak saya. Besok-besok kita ke Semeru ya, nak! Kalau boleh minjem istilahnya papa Bebi, ibunda ucapkan: MBSK, Mamah Bangga Sama Kamu! Jhiahahaa.. Der ah, bade permios sim kuring teh. Marangga sadayana!! Hatur nuhun anu parantos maraca, sing diberkahan ku Gusti. Aminnn.. 🙂

_DSC9793

Miara leuweung anjangeun urang sarerea.. Mari kita pelihara hutan kita bersama! ❤

Advertisements

Mengukur Batas Kemampuan di Tahura

Welkommen!

Wellkommen!

Ini pertama kalinya saya ajak anak saya Val untuk hiking.. Klo anda tanya, “Kenapa baru sekarang??”, ya masih mending daripada baru saya ajakin pas dia SMA. Iya, gak nyambung. Biarin.. Niatannya sih pengen bawa dia sesering mungkin ke alam, entah alam bawah sadar atau alam gaib. Setelah selama ini melihat kemampuan jalan dia yang mumpuni, apalagi kalo baru bangun tidur kayak powerbank baru dicharge semaleman, saya beranikan bawa dia hiking dengan trek agak jauh. Ngga jauh amat sih, cuma 2 jam. Hehe.. Agak mikir juga, kalau kejauhan ntar di tengah jalan bisa-bisa dia minta gendong. Ohnoooo!!

Setelah selama ini bosan dan mulai masuk dalam kategori muak untuk mengunjungi mall dan mall lagi, mumpung di Bandung kami kunjungi Taman Hutan Raya Djuanda atau dulu disebutnya Dago Pakar. Ini tempat saya biasa hiking semasa SD dulu. Udaranya yang sejuk, jalanannya yang udah oke, dan track hiking yang udah tertata rapi menjadi salah tiga alasan terpilihnya tempat tersebut. Jangan lupakan juga pesona Goa Jepang dan Goa Belanda yang ada di kawasan itu.

Berangkat pagi menuju Tahura, ternyata di lokasi sudah cukup banyak kendaraan terparkir dan didominasi plat B. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp.10.000 per orang, lalu menyerahkan tiket tersebut kepada petugas jaga, segera langkah awal kami disambut bau embun khas hutan tropis plus barisan hutan pinus yang rapi. Udara dingin sisa hujan semalam bersamamu masih terasa. Segeeeerrr!!

_DSC9670

Hutan-hutan pinus penyapa awal kami..

Udah kayak di Nami Island belum??

Udah kayak di Nami Island belum??

petunjuk arah, agar tidak tersesat di hatimu kelak

petunjuk arah, agar tidak tersesat di hatimu kelak

peta Tahura Djuanda

peta Tahura Djuanda

Tahura ini ada beberapa akses pintu masuk, yang utama yaitu yang di Dago Pakar ini, lalu ada pintu masuk dari Kolam Pakar di PLN Ciburial, dan juga ada pintu masuk dari arah Maribaya, Lembang.

img1419953665361

Track hikingnya sudah terdiri dari batu-batu dengan path yang rapi. Di sisi kiri jalan hiking, terdapat jalan berpasir khusus buat jalan kuda. Yihaaaa!!

_DSC9706

setelah menuruni tangga-tangga tadi, tiba di track hiking yang rata dan panjang ini..

_DSC9694

‘saudara jauh kita’ lhoo dibilangnya >.<“

_DSC9723

masih ngga kepingin ke sini??

_DSC9731

Val aja asik hepi-hepi huhu-haha  ^_^

Jika ada yang mengganggu mood saya saat itu hanya gaduhnya suara motor yang sesekali lewat, mengganggu ketenangan dan keademan suasana. Jadi tuh sekarang di sana tersedia ojek motor, bilamana kaum manula atau semi manula seperti saya membutuhkannya. Ataupun juga untuk menjangkau lokasi paling ujung dari Tahura ini, yaitu ke air terjun Maribaya. Yakali kalo deket, bayangin aja jalan kaki dari Dago ke Lembang! Walaupun di papan penunjuk tertulis 4,3 Km, aslinya sih sampai 6 Km (menurut mas-mas tukang ojek). Kalau jalan lewat track hikingnya bisa 5-6 jam katanya.

menara pandang

menara pandang..

Berikut ini keterangan ngutip sengutip-ngutipnya dari web resmi Tahura:

Tempat-tempat yang bisa kita kunjungi di taman hutan seluas ± 526,98 hektare ini, yaitu Curug Dago dan batu prasasti kerajaan Thailand, panggung terbuka, kolam PLTA Bengkok, monumen Ir. H. Djuanda dan pusat informasi (museum mini) Tahura, taman bermain, Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya, Panorama Alam Hutan Raya, jogging track ke Maribaya, dan Patahan Lembang.

Tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan biasanya adalah Goa Jepang dan Goa Belanda, karena cukup dekat dijangkau dengan berjalan kaki. Goa Jepang berada sejauh ± 600 meter dari pintu masuk Dago Pakar. Goa buatan yang dibangun pada tahun 1942 ini cukup unik karena memiliki empat pintu yang saling terhubung di dalam kecuali pada pintu kedua yang dimaksudkan sebagai pintu pengecoh. Goa milik Jepang ini dulunya dibangun oleh orang-orang Indonesia yang menjadi romusha Jepang. Goa sepanjang ± 70 meter ke dalam ini difungsikan sebagai tempat perlindungan sekaligus pusat pertahanan Jepang di Bandung utara. Di dalamnya, terdapat empat buah kamar yang dulunya dipakai istirahat panglima tentara Jepang. Untuk menelusuri ke dalam Goa ini, anda biasanya akan diminta menyewa sebuah senter seharga tiga ribu rupiah dan anda juga akan dipandu oleh pemandu. Walaupun gelap, Goa Jepang tidak terkesan angker karena Goa ini cukup bersih dan ramai dimasuki pengunjung.

Setelah menjelajah Goa Jepang, empat ratus meter selanjutnya anada akan bertemu dengan Goa Belanda. Goa Belanda berukuran lebih luas dari pada Goa Jepang. Goa peninggalan Belanda yang dibangun pada 1941 ini dulu digunakan sebagai terowongan PLTA Bengkok. Kawasan Dago Pakar dianggap sangat menarik, karena selain kawasannya yang terlindung, tempat ini juga dekat dengan pusat Kota Bandung. Makanya, pada awal perang dunia II tahun 1941, Militer Hindia Belanda membangun stasiun radio telekomunikasi. Bangunan itu berupa jaringan goa di dalam perbukitan batu pasir tufaan. Saat perang memuncak, goa ini berfungsi sebagai pusat komunikasi rahasia tentara Belanda, sedangkan pada masa kemerdekaan dimanfaatkan sebagai gudang mesiu.

Lokasi selanjutnya, yakni Curug Lalay, Curug Omas, dan patahan Lembang, lokasinya cukup jauh sehingga dibutuhkan kendaraan untuk mencapainya. Jika anda penasaran, tetapi tidak punya kendaraan sendiri, anda bisa naik ojek dengan ongkos Rp 20.000 bisa ditawar. Curug Lalay dan Curug Omas Maribaya kedua-duanya mengalir di Sungai Cikapundung. Namun, jika anda ingin sedikit berkeringat dan menyukai tantangan, maka disini juga tersedia jogging track untuk anda hingga ke Maribaya.

……………………………………………….

……………………………………………….

……………………………………………….

………………………………………………

Aku lelah……

Iya lelah! Sama kamu!! *mulai gak fokus*

Udahan dulu ya ceritanya, mata udah mulai siwer liat tulisan..

Pamit dulu ya manteman! Lanjutannya saya usahakan secepatnya 😀

Wassalam!

Jangan Manja di IKEA

IMG_20141218_110508

IMG_20141218_110546

Berhubung pas ke Singapore waktu itu ngga sempet ke IKEA-nya, jadilah gw coba menjajal IKEA di Indonesia yang baruuuuu aja 2 bulan lalu launching.. IKEA Indonesia yang berlokasi di Alam Sutera, Tangerang ini beroperasi mulai tanggal 15 Oktober 2014, nyusul senior-seniornya yang udah duluan muncul di Singapura, Thailand, Malaysia, dan Hongkong (kalo ngga salah yeh. CMIIW). Kenapa gw suka IKEA? Karena design-designnya lucu, unik, ngga bosenin, kreatif deh! Baik design barangnya maupun design interiornya, gw demeeen..

IMG_20141218_114408

Toko retail furniture yang punya warna khas biru-kuning ini merupakan toko perabotan dan pernak-pernik rumah yang asalnya dari Swedia, yah sebelas dua belas ama Courts atau Informa. IKEA Alam Sutra berluas 35.000 meter persegi, terdiri dari toko dengan bangunan 2 tingkat (dimana terdapat 55-60 setting ruang untuk display dan tersedia lebih dari 7.000 produk di dalamnya), sebuah food court dengan 700 kursi, dan lahan parkir berkapasitas 1.000 mobil. Salah satu nilai plusnya yaitu parkirnya gratisssss.. Ini terasa seperti syurga, dimana kalau ngemol di Jakarta bayar parkirnya bisa Rp.25.000-30.000,- sendiri. Ciihhhh..

IMG_20141218_111431

Entah kenapa gw mank suka ke gerai-gerai begini. Kerjaan gw kalau ke mall ya mampir ke Informa atau Ace Hardware dan gw bisa betah berlama-lama disana sampe kadang satpamnya apal ama gue. Dalam hatinya mungkin bilang, “Nah ini orang yang kerjaannya mampir mulu ksini tapi ngga pernah beli. Pasti ntar pas keluar juga ngga bawa apa-apa lagi deh!” Haizzzz..

IMG_20141218_112451

IMG_20141218_112442

Suka aja ngeliat perabotan unik dan lucu-lucu, trus gw bayangin ntar buat di rumah gw, barang ini cocoknya ditaro di sini, barang itu bagusnya di pojokan sana. Gitu-gitu deh.. Bisa jadi sumber inspirasi gw (kalimat kamuflase untuk hobi ngehayal). Dan bagi gw, nilai plus IKEA lainnya adalah setting ruang untuk display-nya diciptakan ramah pengunjung. Selain bisa dilihat-lihat dan disinggahi, kita juga bisa bebas mencoba barang-barang display mereka, seperti tiduran di kasurnya (kalo ngga malu), duduk di sofa, nyoba pernak-perniknya, nyala-matiin lampunya. Pas banget kan buat gw yang tangannya gak bisa diem, karena biasanya klo di tempat lain harus sembunyi-sembunyi :D. Setting ruangnya juga di-design sangat cozy dan elegan. Ngga heran bawaannya jadi betah dan pengen bawa tuh setting ruang plek buat di rumah.

IMG_20141218_114302

suka.. suka.. sukaaaaa..

Yang unik lagi, di IKEA kita dituntut mandiri. Kalau biasanya di swalayan banyak bertabur mas-mas atau mba-mba pelayannya, di sini agak susah didapati. Ada, tapi ngga sebanyak biasanya.. Gw yang emang suka risih kalo diikuti mas/mba pelayan (berasa disangka mau nguntil), bisa leluasa di sini. Jadi pembeli yang harus pilih-pilih, ngambil, bawa, dan merakit sendiri barang belanjaannya. Semua barangnya udah lulus QC, jadi ngga usah khawatir ada yang rusak atau cacat.

IMG_20141218_112609

Juga jangan harap belanjaan kita dikresekin, karena setelah bayar, barangnya digeletakin lagi begitu aja di trolley. Jadi mending bawa shooping bag dari rumah, atau bisa beli tas belanja berbahan plastik yang mereka jual seharga Rp. 10.000,00.

IMG_20141218_114701

Swedish food market.. *nyam-nyam*

Di lantai 1, ada tempat bermain anak (kasarnya sih tempat nitipin anak, biar orang tuanya bisa bebas berkeliaran liat barang), namanya Smaland. Ini juga gratissss.. Anak-anak bisa bermain di sini selama 1 jam, lalu setelahnya harus dijemput kembali oleh orang tuanya (bukan oleh ncus ato nanny). Jika waktu sejam-nya udah abis, akan ada pengumuman yang terdengar sampai ke seluruh pojok toko, memberitahukan bahwa anak yang bernama X telah habis waktu bermainnya di Smaland dan tolong orang tuanya segera menjemput. Sayang Val belum boleh masuk, karena tingginya harus antara 100cm-130cm. Manyun deh dia..

IMG_20141218_112107

IMG_20141218_112043

sedikit intipan suasana di dalam

Di lantai 2 ada food court yang sangat cozy tapi ngantrinya ini yang bikin males duluan. Gw dateng hari biasa dan siang-siang, tapi antriannya udah mengular aja. Katanya sih segitu ngga terlalu rame. Hiyaaah.. Kalo ke IKEA ngga afdol kalo ngga nyobain Swedish Meatballs-nya yang disajikan dengan mashed potato. Baso ini yang iconic banget (katanya) di sini. Cobain gih.. Loe nyoba, ter? Ngga! Oya, meatballs-nya ini katanya halal. Harganya Rp.40.000,-/10 pcs, Rp.50.000,-/15 pcs, dan Rp.60.000,-/20 pcs. Selain itu, setelah makan kita harus beresin tray makanan kita lalu ditaruh di rak khusus tray. Good concept!

IMG_20141218_113519

bukan cuma sebaris ini aja antriannya, tapi di depannya masih meliuk-liuk -.-

IMG_20141218_112841

trolley buat bawa makanannya lucuuu.. Sambil ngantri, sambil foto koko ganteng ini..

ngga jadi makan, padahal restorannya se-cozy ini..

ngga jadi makan, padahal atmosfirnya se-cozy ini..

Gw mutusin ngga jadi makan di sana, ngantrinya malesin. Bisa 20-30 menit nunggunya.. Ngantri males, tapi perut udah paduan suara. Ngga disengaja gw nemu bistro yang jual snack-snack ala kadarnya. Posisinya tepat di sebelah pintu keluar, di lantai 1. Beli paket hotdog, fried bread, dan es krim cuma Rp.15.000,00. Hihihiii.. Lucunya, setelah bayar si mas-nya ngasih gw koin kecil. “Ini buat apaan, mas?”. “Itu buat di mesin es krim-nya, mba.” Baru ngeh si mas cuma ngasih cone-nya doank ke Val. Hahaa.. Konsep mandiri TERASA sekali di sini. Tempat saus, sambal, mustard, mesin soft drink, kopi, semuanya udah disediain, ngambil sendiri masing-masing.

IMG_20141218_121116

Nunggu apa, dek??

img1418953925719

Saya sudah cukup bahagia dengan hanya lihat-lihat barang dan designnya IKEA ini (the main reason is NGIRIT!). Memang butuh pengendalian diri yang kuat kalau dateng ke sini, jadi biar aman ya dompet, ATM, CC ngga usah dibawa aja. Beda tipis memang antara ngirit, pelit, dan kere. 😛

IKEA Alam Sutera

Alamat:
Jl. Jalur Sutera Boulevard No. 45
Alam Sutera
Serpong, Tangerang
15320 Indonesia

(Note: Dari jalur tol Jakarta-Tangerang, keluar di gerbang tol Kunciran. Lalu tinggal ikuti jalan, ataupun kemana keramaian mobil lain menuju. Hehe.. Ke sebelah depannya sedikit udah terlihat koq gedung IKEA-nya).

Kontak:
Telepon: 021 29853900
Fax: 021 29853901

Jam Buka Toko:
Senin – Minggu 10.00 – 22.00

Jam Buka Restoran:
Senin – Minggu 09.30 – 21.00

Katanya

“…aku yang salah karena mengandalkan manusia. Awalnya aku galau dan gak bisa terima. Tapi aku belajar dari semuanya. Ini ‘salib’ yang harus kupikul, ini ‘ladang’ yang harus kukerjakan. Puji Tuhan, masih Tuhan kasih ‘ladang’ untuk dikerjakan..”

Begitu sepenggal curhatan seorang kawan, kemarin malam.. Bukan tentang cinta, bukan tentang pekerjaan atau materi. Mari kita sederhanakan saja, ini tentang harapan, tentang nurani, tentang sikap, tentang prinsip hidup. Mengerjakan dulu ‘bagian’ kita semampunya, lalu membiarkan Tuhan yang menyempurnakan sisanya.

Sebuah bisikan sayup menyela di hatiku, “Lantas, bagaimana dengan ‘salib’mu? Adakah kau pikul itu selama ini atau kau geletakkan begitu saja, enggan kau sentuh??”

*termenung*

pict