Mengukur Batas Kemampuan di Tahura 2

Posted: December 31, 2014 in Travel, trip, holiday, vacation, or whatever it named
Tags: , , , ,

Mari dilanjutttt… ๐Ÿ˜

_DSC9682

Setelah jalan sangat santai menyusuri track tadi, sampailah kami di Goa Jepang. Pintu yang tidak terlalu lebar, gelap yang pekat, dan jalan di dalam goa yang masih beralas tanah, membuat saya agak ‘malas’ masuk ke dalam. Bukan, bukan takut, cuma males aja. Hehe ngeles.. Ngga tau tuh, bawaannya gak tertarik aja untuk masuk ke goa Jepang ini.

_DSC9695

kawasan Goa Jepang

_DSC9697

behind the story dan peta jalur di dalamnya

_DSC9696

terdiri dari 4 buah pintu masuk, dan di beberapa sisi pintu terlihat genangan air. Becyeeek!!

_DSC9702

Pintu tembusan kecil, agak ke sebelah atas bukit. Mungkin sebagai pintu rahasia atau untuk mengintaiย musuh

_DSC9701

ABG-ABG labil lagi rempong mutusin mau masuk ato ngga

Saya memutuskan ngga usah masuk deh, ini kan ceritanya hiking bukan uji nyali. Lalu kami kembali menyusuri track. Pemandangan yang terhampar cukup memanjakan mata. Sesekali ada pedagang makanan yang menawarkan dagangannya, mulai dari pedagang jagung bakar, ketan bakar, buah potong, es potong, cireng. Hnyeeemm!! Jajan dulu ah, karena kesejahteraan otak dimulai dari kesejahteraan perut. Eh, ngga usah dicari itu teorinya siapa.

img1419952748360

Salah satu pedagang yang saya temui. Melihat ibu ini jualan ditemani anaknya yang sedang tertidur pulas di keranjang itu rasanya gimanaaa..

Setelah jalan sekitar 100 meter dari Goa Jepang tadi, kami tiba di kawasan Goa Belanda. Untuk keterangan Goa Jepang dan Goa Belanda, baca dulu di postingan sebelumnya yah, biar nyambung kita ngobrolnya ๐Ÿ˜€

img1419953765949_1419955349251

Gambar goa di plang-nya aja udah ngeri-ngeri sedap begini cobaaaa.. Pakai efek-efek blur sgala

img1419953949364_1419955330217

Saya setuju dengan slogan di atas, kecuali untuk huruf ‘p’ pada kata ‘kreatipitas’ -.-

Lucu memang lidah orang Sunda ini, kadang kebalik-balik kalau ngomong p, f, dan v. Lidah saya yang settingannya Sundanese juga kadang begitu. Bhahaha.. Teman saya kalau manggil Val jatohnya jadi ‘Pal’ atau ‘eMpal’. Mungkin slogan tadi jika diucapkan sesunda-sundanya akan berbunyiย “pandalisme tidak membuat terkenal, hanyalah kreatipitas yang tidak terfelajar” dan akan sangat cocok jika diucapkan oleh Picky Vrasetyo. ๐Ÿ˜›

_DSC9732

behind the story

_DSC9741

Val smangat 45 untuk masuk, apalagi setelah dikasih senter >.<

Setelah ber-hompimpa alaium gambreng dan dimenangkan oleh Val, masuklah kami ke goa ini dengan terpaksa. Bau pengap dan lembab khas goa menyeruak ketika kami masuk. Hanya di beberapa ruang tercium bau kelelawar.

_DSC9746

akyu tatuuuttt!!!

_DSC9749

celah kecil disamping pintu masuk utama, katanya untuk mengintai musuh

Pada langit dan dinding goa juga terlihat beberapa lumut dengan warna hijau tua. Melihat lumut itu mengingatkan saya pada satu komunitas maksa dengan nama ‘Ijo Lumut’ kepanjangan Ikatan Jomblo Lucu Imut. Ciiiihhh.. ๐Ÿ˜€

_DSC9750

Dipandu oleh aa yang skaligus merangkap tukang ojek.. Aa-nya ini sopaaan sekali, cenderung pemalu.

Jalanan di goa Belanda ini sudah disemen dan tidak berupa tanah seperi di goa Jepang. Jalanannya lebih lebar dan pengunjungnya pun lebih ramai. Sepanjang goa terdapat besi-besi pengait untuk menggantung lampu penerangan pada masa itu, atau pun untuk kabel penyambung radio. Di sepanjang jalur tengah juga terdapat rel kereta kecil yang dulu berfungsi untuk mengangkut mesiu karena goa ini juga pernah dipakai sebagai gudang mesiu oleh tentara Indonesia.

_DSC9751

Lorong kecil untuk persembunyian. Di beberapa tempat sengaja dibuat buntu ujungnya, untuk mengecoh musuh

Kalau anda tanya ada apa di dalam lorong sana, maaf saya harus jawab tidak tau, karena gelap yang teramat pekat. Ini pun hanya beberapa foto yang berhasil saya ambil ketika di dalam goa, karena shutter kamera tidak bereaksi ketika ditekan, akibat tidak adanya cahaya sama sekali jadi gak bisa fokus. Bingung deh kalimat penjelasannya..

_DSC9758

kerangka-kerangka besi ini dulunya bekas tempat radio untuk komunikasi rahasia para tentara Belanda

_DSC9757

“Ini ruang interogasi”, kata si akang-nya

Dan saya malah antusisas motoin, lupa kalau jaman dulu interogasinya pasti pakai cara sarkasme (dipukuli, disetrum, dicabuti kuku *glek*). Setelah keluar baru ngeh, berarti sama aja itu ruang buat penyiksaan. >_<”

Memang auranya juga agak gak enak di Goa Belanda ini, tapi entah kenapa kalau Goa Jepang lebih berasa mistis sehingga saya enggan sama sekali untuk masuk. Mistis ya, bukan erotis. Kalo itu sih Depe.

img1419954379310

Beberapa kali papasan ama monyet-monyet..

_DSC9772

Semakin siang, pengunjung semakin ramai berdatangan

Setelah puas meng-goa, kami memutuskan pulang. Di tengah jalan pulang ketemu bapak penjual air gula aren. Penasaran pengen nyobain, saya berhenti dulu. Bapak yang umurnya sudahย hampir tiga perempatย abad tapi masih terlihat gagah ini melayani pembeli dengan ramah dan kadang mengajak ngobrol dengan bahasa Sunda yang haluuuus, sampai kadang saya ngga ngerti. Sesekali dia menghisap rokok cerutu di tangan kirinya. Nangkep sedikit dari cerita si bapak, bahwasanya dia sendirilah yang tiap-tiap hari memanjat pohon arennya. Lalu saya tanya, koq di air aren ada bau asapnya? Ya karena di pohon aren banyak semutnya, jadi sebelum diambil, diusir dulu semut-semutnya pakai asap. Ya, sesimpel itu jawabannya! ๐Ÿ˜€ Entah pengetahuan saya yang kurang.

img1419952425230

Dalam segelas air aren ini terdapat tetesan keringat si bapak tua. Rasanya? Manis campur bau asap plus sedikit kecut

Mencapai setengah perjalanan pulang, Val mulai mengeluh kecapekan. Melihat gelagat yang naga-naganya akan mengancam kemaslahatan betis saya, saya iming-imingi dia dengan sebuah jagung bakar. Hasilnya?? Lupa tuh dia capeknya! Malah asik gerogotin jagung sejalan-jalan. Hahaa.. Gampang sekali dialihkan anak ini.

img1419952057585

_DSC9776

Rata-rata di tiap pohon ada papan namanya

_DSC9786

Suka sekali melihat pemandangan ini. Sebuah warung sederhana dikelilingi pohon pinus yang disusupi bau jagung bakar yang sedang dibakar di sebelah warung.. Mengingatkan saya akan rumah nenek. Entah neneknya siapa..

Gitu deh, cerita balada emak-emak yang ngajak anaknya hiking. Seru kan?! Engga?? Ah gak apa-apa.. Yang penting saya tau sampai mana batas kemampuan anak saya. Besok-besok kita ke Semeru ya, nak! Kalau boleh minjem istilahnya papa Bebi, ibunda ucapkan: MBSK, Mamah Bangga Sama Kamu! Jhiahahaa.. Der ah, bade permios sim kuring teh. Marangga sadayana!! Hatur nuhun anu parantos maraca, sing diberkahan ku Gusti. Aminnn.. ๐Ÿ™‚

_DSC9793

Miara leuweung anjangeun urang sarerea.. Mari kita pelihara hutan kita bersama! โค

Advertisements
Comments
  1. PERTAMAX!!!
    Hati-hati ya ESTER APRILLIA kalau naik-naik pohon!!

    Like

Sila Tinggalkan Jejak..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s