‘Pelacur’kah Kamu??

Posted: September 15, 2015 in Journey of life

Beberapa waktu lalu, saya dan 3 orang teman mendapat permintaan dari seorang kawan yang hendak menikah, untuk mengisi sebuah tarian pada acara resepsi pernikahan mereka. Tawaran tersebut kami terima, mengingat tidak ada hal yang menjadi alasan untuk kami menolaknya, pun mereka adalah teman satu gereja.

Singkat kata, persiapan, latihan, lagu, koreografi sudah rampung, dan jadilah pada hari H itu kami mempersembahkan tarian sebagai apresiasi talenta yang kami miliki. Pada resepsi itu pun tidak ada kendala berarti.

Beberapa hari kemudian sang mempelai wanita menghubungi dan dia menemui salah seorang teman satu team. Sejumlah uang dia serahkan, katanya sebagai bentuk persembahan kasih atas partisipasi kami pada acara pernikahannya. Teman saya menolaknya. Bukan karena sok-sokan tidak mau atau tidak butuh, tapi nuraninya yang mendorong dia saat itu untuk menolaknya, mengingat mempelai ini sudah cukup menghabiskan biaya pernikahan yang lumayan dan mereka masih bergumul untuk melunasi ini itu.

Apa pendapat saya? Saya setuju dengan sikap teman saya ini. Tapi bukan itu pointnya.

Saya masuk pada inti tulisan saya..

Yang saya tidak setuju adalah sikap seorang teman saya yang lain, yang pada pelayanan kami di pernikahan lainnya, ‘mentarif’ berapa persembahan kasih yang seharusnya kami terima. Masih belum cukup, dia meminta embel-embel disediakannya fasilitas ini itu (transport, kostum, assesoris). Udah berasa artis aja.. Gak skalian minta disiapin hotel, bodyguard, dan red carpet?? 😧

Ini agak mengganggu saya.. Prinsip saya, kalau untuk pelayanan, sekecil apapun saya terima, sebesar apapun saya terima, tidak diberi pun saya terima.. Mengingat talenta yang kita punya, pun kita dapatkan GRATIS dari Tuhan. Semuanya pemberian, semua karena kasih karunia.. Dan tidak ada alasan bagi kita untuk memegahkan diri, bukan???

Saya teringat perkataan seorang kawan baik saya. Dalam suatu obrolan ringan kami dulu, dia berujar, “Kalau untuk pelayanan kamu pasang tarif, apa bedanya kamu sama *maaf* pelacur?? Cuma bedanya ini ‘pelacur rohani’.” #JLEEBBBB!!!

Yap, kalau saya memasang tarif untuk pelayanan yang saya lakukan, apa bedanya saya dengan seorang pelacur?!? Bukankah itu yang mereka perbuat? Melayani orang dengan memasang tarif tertentu untuk pelayanan mereka?? Bukankah itu tujuan mereka?? Money oriented. Demi uang, dan bukan dengan hati.. 😱

Udah sih, gitu aja.. Semoga bisa jadi perenungan buat kita, buat kamu, buat saya, buat anda semua. Bukan ingin mendiskriminasikan orang atau golongan tertentu. Cuma mau nyepet-nyepet dikit orang-orang yang setipe dengan teman saya.. Terutama untuk mereka yang mengaku ‘pelayan Tuhan’. Boleh kan?? Hihihiiiii 😁.

Sedikit apapun talentamu, setialah.. Bahkan walau yang kaupunya hanya satu talenta. Karena percuma punya banyak talenta kalau kamu tidak menghargainya dan tidak bisa dipercaya untuk mengelolanya. Itu..

#lagiserius #tiba-tibaserius #laginormal #lagisehat 😎

Advertisements
Comments
  1. viva says:

    Like this

    Like

  2. nyonyasepatu says:

    Hehehe… emang jleb banget ya

    Like

  3. Woles euuyyy…!! Haha

    Like

  4. Aaaakhh banyak yang komen. Aaaaaakkhhh!!!!

    Like

  5. meidy says:

    Tulisan Bagus buat jadi perenungan Para hamba Tuhan

    Like

Sila Tinggalkan Jejak..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s