Archive for October, 2015

Predikat random blogger mungkin tepat disematkan pada saya. Niatan awal membuat blog ingin jadi travel blogger, di kenyataannya malah apapun saya bahas, mulai dari kisah perjalanan, tempat makan, motivasi, puisi, quote, cerita kehidupan, cerita persahabatan, sampai cerita cinta. Yang belum pernah saya bahas adalah postingan bertemakan horror. Hanya postingan Sosok Itu saja yang nyerempet-nyerempet tema tersebut. Nah sekarang saya jadikan saja bahasan tema itu, supaya semakin absah kerandoman saya *tabuh genderang*. Hihihiiii..

Mengalami kejadian mistis pada saat traveling, seingat saya hampir tidak pernah. Dalam kehidupan sehari-hari pun bisa dibilang adem ayem gemah ripah loh jinawi. Puji Tuhan.. Cuma memang kadang saat berada di tempat tertentu saya merasakan aura yang kurang enak, sedikit merinding-merinding disko. Hanya sebatas itu, tidak pernah sampai melihat sosok astral atau sampai diganggu. Puji Tuhan lagi..

Lah, jadi loe mau cerita apa, Ter? Untuk tema ini materi bahasan loe minus..

Eitsss, tunggu dulu! Apakah anda lupa bahwa saya bukanlah tipe solo traveler, yang mana berarti kalau saya bepergian harus ada temannya. Hihihi iya saya memang manja. Nah kadang orang lain ini yang kena ‘gangguan’ usil.

Pernah saat saya dan #DDCPK traveling ke Solo, singgahlah kami di satu resto yang dikelilingi kebun teh untuk makan siang. Setelah pesan, sambil menunggu makanan tiba, lantas kami foto-foto (apalagi kerjaan #DDCPK selain foto dan makan? 😅). Posisi kami di outdoor, membelakangi pintu samping resto, dimana pada sisi kiri pintu terdapat dua buah kursi kayu dengan latar belakang nama resto itu pada dindingnya.

Saat tengah asik foto, tetiba kak Viva sedikit tertegun lalu bilang, “Jadi nih mau terus foto-foto? Ntar ada yang ngikut lho” *krik-krik-krik*. Kita yang tidak ngeh malah makin hot foto-fotonya. Ngehek banget kan, dikasih kode ngga pada peka. Hahaa.. Malamnya kakak baru cerita bahwa saat dia bilang begitu, beneran dia lihat ada orang pakai baju khas prajurit Jawa, lagi berdiri di depan pintu yang sebelah kursi-kursi kayu itu. Dia kira pegawai restonya, lah tapi koq orang pada lewat-lewat aja depan dia kek gak peduli, oalah ternyata ternyata.. Mana ‘dia-nya’ terus menatap pada kelompok kami 😧.

Pernah juga dulu saat SMP, saya dan keluarga besar dari pihak papah menginap di daerah Kaliurang, Yogyakarta. Saat itu benar-benar kami sekeluarga besar, bayangkan saja adik kakak papah saya ikut semua, plus keluarga masing-masing (yang notabene mereka 11 bersaudara). Sampai-sampai kami menyewa bus pariwisata ukuran besar untuk road trip tersebut. Udah kek supporter bola, em?!

Tiba saat sore hari, membuat kami masih leluasa melihat sekeliling. Tempat menginap kami ada yang bangunan lama (terdiri dari 3 kamar), dan ada bangunan baru yang terdiri dari (agak lupa) 30 kamar. Saya dan satu keluarga yang lain kebagian di bangunan lama. Saudara yang lain semua di bangunan baru. Malam itu, seingat saya tidak ada yang ganjil, memang ketika ke kamar mandi saya agak merinding, tapi selebihnya baik-baik saja. Saya pun tidur dengan nyenyak dan bangun seperti biasa, dalam suasana ceria dan muka masih cantik-cantik aja.. *sakarepmu, Ter!*

Ketika bangun, di tempat sarapan sudah berkumpul saudara-saudara yang menginap di bangunan baru, sedang pada heboh bercerita. Saya kepo kan, lalu ikut menyimak obrolan om-om dan tante saya. Ternyata mereka yang menginap di bangunan baru banyak yang diganggu semalam.

Ada kakak papah saya yang tempat tidurnya digoncang-goncang. Ada lagi yang lemari di kamarnya tiba-tiba berpindah tempat. Ada juga tante saya yang lain, tengah malam terbangun karena mendengar suara gaduh orang berlarian di depan kamarnya sambil geret-geret koper. Dikira tante saya, sudah tiba saatnya checkout, jadi dia dengan setengah sadar langsung packing secepat kilat, takut tertinggal rombongan. Setelah selesai dan dia sudah siap, pas buka pintu koq malah gak ada siapa-siapa dan tetiba suasana hening. Dia celingak-celinguk keheranan. Hahahaa ini ngebayanginnya malah saya ngakak 😁.

Oya, ternyata papah saya juga sorenya sempat diganggu. Saat tidur-tiduran di salah satu kamar di bangunan baru, dia merasa di kasurnya seperti ada yang sedang lompat-lompat. Ya dulu waktu kecil sih saya dan kakak memang suka begitu, tapi kan saat itu saya sudah SMP, jadi otomatis saya lepas dari tuduhan. Jadilah sepupu saya yang saat itu masih kecil kena omelan papah, “Vicky, kalau mau lompat-lompat jangan disini! Om mau tidur dulu.” Merasa tidak mendapat respon, papah saya membuka mata dan tidak mendapati siapa-siapa di sana. Hiiiiyyy!! Trus apa yang beliau lakukan? Lanjut tidur! Eerrhhhhh.. 😥

Jadilah pagi itu semua heboh! Lalu ada beberapa orang om saya yang cerita juga. Mereka memang baru tidur larut malam, karena biasa lah bapak-bapak kalau ngumpul main kartu sambil ngopi sambil ngobrol, lalu tengah malam itu dari kejauhan mereka melihat banyak anak kecil berlarian di tangga taman, lalu… HILANG! Yakali anaknya siapa tengah malam main kucing-kucingan cobaaaa?? Main kartunya pun bubaaaaarrrr!! 😄

Segitu dulu ah ceritanya. Kalau ada yang mau cerita juga silahkan. Saya ngumpet dulu tapi 😝.

Eh eh, jadi siapa ya anak-anak kecil itu?? Eaaaaaa!! *tabuh genderang lagi*.

NB: postingan kali ini no picture. Hihihiii..

Sosok itu…

Posted: October 28, 2015 in Journey of life

“Cerita ini bermula ketika saya dan seorang teman sepakat mengunjungi sebuah makam yang masih diselimuti tanah merah…”  *terdengar suara serak-serak basah ala penyiar Nightmare Side Ardan FM*.

*setel efek suara lolongan anjing kejepit*
*tambah efek angin yang tiba-tiba berhembus.. Woooshh wosshh..*

“Lalu muncul sesosok tinggi berbulu dari balik pepohonan beringin yang rindang. Bersamaan itu, entah dari mana, datanglah kabut yang pekat menyergap, membuat jarak pandang kami terbatas.. Lalu, lalu… Aaaaakkkkhhh!!!”
_______________________________________________________________

Gimana gimana, udah mencekam belum openingnya? 😁

Satu waktu di sore hari, saat suasana rumah sedang sepi karena Val tidur siang, saya bermaksud ke dapur untuk mencuci piring-piring kotor. Jadi posisi dapur tuh di pinggir ruang tamu, dibatasi tembok, dan ada akses pintu keluar dari dapur situ. Nah pintu itu lapis dua, ada pintu kayunya dan bagian luarnya pintu ram. Pintu kayunya jarang saya tutup, saya hanya mengunci pintu ram-nya agar ventilasi udara di rumah lancar.

Sewaktu saya belok ke arah dapur, saya kaget bukan main karena ada SOSOK KECIL BERAMBUT PANJANG berdiri tepat di depan pintu ram! Posisinya dia di dalam rumah, menghadap keluar seolah-olah sedang terpaku menatap jalanan kompleks yang sepi. Apalagi cahaya matahari sore itu membias di teras depan dan membuat sosok ini jadi samar-samar, hanya terlihat siluetnya.

Sejenak saya termagu ‘tak sadarkan diri’, beberapa detik kemudian baru saya berhasil menguasai kekagetan..

Saya dekati pelan-pelan sambil berpikir sosok apakah itu? Kalau binatang, koq ya bisa masuk, sedangkan pintu semua tertutup. Kalau jenglot, koq agak lebih gemuk perawakannya. Kalau kunti, koq ya pendek banget. Kalau tuyul, koq ya rambutnya gondrong.. Tik tok tik tok..

Setelah saya lebih dekat dan semakin dekat, baru nampak jelas sosok tersebut. Ealaaah, ternyata BONEKAnya Val!! Ngapain juga coba dia taruh TEPAT di depan pintu dengan posisi menghadap jalan. Dikira itu anjing penjaga apa? Ya siapa yang tidak kaget kalau penampakan bonekanya kayak gini cobaaaaa..

Gini nih..

Udah siap belum?

Ah ntar kaget lagi..

Ntar aku disalahin..

………………………………………………………………

Gimana??

Siap yah…

……………………………………………………………….
.

.

.

.

NIIIIIHHHHHH!!!

image

Rambut acak-acakan, baju sobek-sobek, ‘memar’ merah dimana-mana. Fiyuuuhhh!

Saat itu malah lebih parah, bajunya gak dipakein! Jadi yah, aura horor-nya dapet banget lah ya.. 😅

Pingin teriak tapi suara ketahan. Ditahan-tahan tapi akhirnya kesel juga. Kesel tapi ada mau ketawa juga iya. Ketawa tapi ya jadi malu sendiri. Malu-malu tapi koq aku mau.

Eeehh, gimana?

Boneka itu kado dari tante saya untuk Val saat ulang tahun dia yang ke-3. Kemana-mana dibawa, tiap hari diajak main, disuapin, dipakein jepit lah, bando lah, kaos kaki lah, bahkan saat saya mandiin dogi, dia ikut mandiin itu boneka di baskom pakai sabun Sunlight. Trus saya ikutan deh 😂.

Hahahaa.. Gini nih efeknya gegara baca blog teman yang bercerita kejadian horor, udahnya saya jadi kagetan! Aaaaaahhhh!!

Senyum ceria dulu yuk aaahh.. Cheers!!! 😁

Pukul 20.20 BBWI..

Lagu Indonesia Raya bergema di stadion Istora. Seluruh penonton benyanyi dengan khusyuk sembari berdiri. Layar visual melingkar yang berada tepat di tengah stage menampilkan Sang Saka Merah Putih yang berkibar. Lighting berwarna merah seakan meleburkan semua penonton dalam satu harmoni kebangsaaan.

image

Lighting merah dan dress code penonton yang seirama

Setelah selesai dan semua penonton dipersilahkan duduk, pada layar visual tadi ditampilkan video opening dari Glenn Fredly. Video tersebut menceritakan garis besar perjalanan musik Glenn dan musisi-musisi besar lainnya yang menjadi ikon keemasan era bermusik di Indonesia, seperti Potret, Riff, Kahitna, Gigi, Indra Lesmana, Nike Ardila, Sheila on 7 (Ebiet mana Ebieeetttt??). Jangan tanyakan soal histeria penonton. Menggelegar sedari awal! Baik itu saat pengumuman untuk jangan menghalangi jalan, himbauan untuk menggeser duduk, ataupun saat staff mengecek alat musik di panggung sebelum konser mulai. Pada salah fokus! Mungkin kalau saat itu saya khayang di stage juga bakal dapat sorakan dan timpukan botol-botol Aq*a.

image

Suasana sesaat sebelum konser dimulai

image

Penonton dengan dress code merah memadati ruangan. Hayooo cari saya yang mana??

Setelah video itu selesai, layar visual tadi terangkat ke atas. Yang menarik, di balik layar yang terangkat tadi sudah menunggu Glenn yang sedang duduk di sepeda BMX dengan manisnya. Dengan gaya sporty ia mengelilingi panggung berdiameter 17 meter itu sekedar menyapa penonton yang teriakannya sudah menggaung-gaung histeris tak beraturan.

image

Pic credit from IG Info Kebayoran

Pembukaan yang dramatis tadi mengawali konser tunggal yang diberi tajuk #KonserMenantiArah, pada tanggal 17 Oktober 2015 kemarin. “Saya dedikasikan konser malam ini untuk generasi saya, anak-anak tahun 90-an!!!”, demikian serunya, yang kembali disambut riuh sorakan penonton (salah satunya saya. Hahaaaa), membuat satu stadion bergema.

Stage melingkar 360 derajat itu menjadi arena pelampiasannya berekspresi malam itu, dan dengan lantang dia melepaskan semua energi, semangat, dan cintanya. Lagu “You Are My Everything” menjadi lagu pembuka.

image

Tata panggung yang apikkkkk..

image

Setelah itu, 19 lagu-lagu terbaiknya dinyanyikan tanpa henti. Aransemen yang rapi, skill pemusik yang mumpuni, aksi panggung Glenn yang all out, mampu menghipnotis penonton terutama kaum hawa (salah satunya saya (lagi). Hahahaa). Penonton yang kebanyakan mamah-mamah muda juga tidak kalah histerisnya dengan yang ABG.

Musisi yang sudah berkepala 4 itu entah sudah berapa kali mengelilingi panggung sembari bernyanyi. Tak jarang juga dia menari-nari, melompat, naik sepeda, main gitar, main piano, dan itu dilakukannya sekitar 3,5 jam nonstop! Lelah sudah pasti, itulah mengapa dia berujar, “Ini kali terakhir saya membuat panggung melingkar seperti ini. Hahaaa.” Walau begitu, kualitas suaranya sangat stabil dari awal sampai akhir. Keren paraaaahhhh ale pung suara!!! 

Konser tunggal nan megah tersebut merupakan apresiasi tertinggi sekaligus ucapan syukur atas 20 tahun perjalanan karirnya di dunia musik Indonesia, dan nyata mampu menyihir ribuan penonton yang memadati Istora malam itu.
image

Sebelumnya, dia telah melakukan rangkaian konser ke 19 kota besar di Indonesia dan konser di Jakarta ini adalah sebagai penutup sekaligus puncaknya. Bersyukur saat konsernya di Bandung saya berhalangan hadir sehingga saya datang ke konser yang di Jakarta ini. Ini juga sebagai pelipur saat 2 minggu lalu tidak bisa menonton konsernya Casiopea di Yogyakarta. Ya kalau tidak bisa melihat Akira Jimbo, setidaknya di konser Glenn saya bisa melihat Rejoz Jumbo. Ehehee..

Di salah satu segmen, kehadiran personil Funk Section menjadi kejutan tersendiri. Seperti kita ketahui bahwa di band inilah Glenn memulai karir di industri musik tanah air pada tahun 1995. Kemunculan mereka yang lengkap seolah menjadi reuni setelah 20 tahun tak berada di satu panggung. Walaupun para personilnya sudah berumur, nyatanya tak mengurangi skill dan pesona yang ditebarkan oleh mereka. Terbukti dua lagu lawas yang mereka bawakan, “Pantai Cinta” dan “Terpesona”, mampu melebur emosi penonton dan membuat mereka hanyut. Nyanyian penonton yang menggema di satu stadion itu membuat saya merinding.

Di segmen lainnya, dia menyanyikan salah satu lagu teranyarnya “Menanti Arah” dan diselingi puisi sarat makna, tentang cinta, tentang harapan, tentang politik, tentang generasi muda, tentang kamu, tentang aku, tentang kita. “Nyalakan api, serukan cinta!”, “Nyalakan api, serukan cinta!”, beberapa kali lantang dia teriakkan di antara jeda lagunya. Selalu ada pesan moral dan harapan positif yang dia sampaikan di setiap konsernya.

Aaaaahh, saya sudah jatuh hati pada karya-karyanya Glenn sejak saya di bangku SMP. Lumayan juga kan selera bermusik saya sedari dulu?? *entah itu dikategorikan dewasa sebelum waktunya? Hahaaa*. Yakaliiii, SMP gitu lohhh!! Saat anak-anak lain lagi beradaptasi dengan peralihan masa kanak-kanak ke masa puber serta sibuk menghafal lagu-lagu kebangsaan, saya malah asik-asikan melow dengan lagu-lagunya Glenn dan om Ebiet. Salah pergaulan ini kayaknya. Hahaaaa..

Moment yang unik lagi, saat menyanyikan lagu “Hikayat Cintaku”, Glenn membawa keliling ajingnya, Axel. Dogi mirip singa dari ras chow-chow itu tak tampak canggung saat diajak berkeliling stage. Gak pake acara ketakutan, kebingungan, atau mogok jalan. Pede sekali dia. Cubangetttt!! Pengen diuwel-uwel!!

image

Pic credit from IG Glenn Fredly

Menjelang segmen terakhir, saat menyanyikan lagu “Karena Cinta”, suara Glenn sempat tercekat karena tangisnya yang tumpah. “Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini, bukan karena kuat dan hebatku.. Terima kasih, cinta..” Srrottt sroottt *lap ingus*. And yunow, ABG di depan saya ikut nangis tersedu-sedu sembari meluk ibunya. *Dek dek, kenapa sih dek?? Itu om-nya ya memang??*.

Moment yang epic lagi, di sela-sela lagu “Kasih Putih” tiba-tiba ia berlutut, mengekspresikan syukurnya yang mendalam. Itu keren banget-nget momentnya.. Apalagi saat lagu itu, semua lighting dimatikan dan hanya sinar dari HP penonton yang dinyalakan. It such a magical atmosphere..

image

Pic credit from Meidy

Dan jujur, Sabtu kemarin itu menjadi salah satu my best Saturday night. Terlalu bagus, terlalu manissss.. Istora rata deng tanah malam itu! Euforia-nya masih berasa, perasaan yang luluh lantak oleh lagu-lagunya juga masih berasa, sisa-sisa ingatan tentang mantan pun masih berasa. Eeeaaaaaa!!! *dipelototin Hendry* .

20 tahun berkarya, di usia 20+20, konser dimulai pukul 20.20, membawakan 20 lagu, rangkaian tur 20 kota, ditambah buku Glenn Fredly 20. Nampaknya ada chemistry yang kuat antara Glenn dengan angka 20. Demikian terawangan saya yang serampangan..

image

Buku Glenn Fredly 20. Pic credit from Meidy

I really enjoyed the show! The best entertaining Glenn concert ever..

image

Ucapan terimakasih Glenn kepada penonton di akhir acara

Terimakasih untuk cabikan-cabikan memori yang kau kuak. Terimakasih untuk koyakan-koyakan perasaan dari suara dan lagu-lagumu. Terimakasih untuk kesan mendalam yang kau torehkan. Terimakasih untuk pengalaman magis yang masih terkenang.

Selamat menanti arah dengan cinta..

image

Apa kita menanti arah yang sama?

Apa yang dilakukan dari hati akan selalu sampai ke hati. ~Glenn Fredly

Penat dengan pemandangan gedung pencakar langit, membawa kaki saya melangkah menuju tempat yang hijau-hijau. Naluri sebagai pecandu alam dan senja membuat mata lelah ini menagih sesuatu yang agak ‘segar’. Vitamin A buat mata saya, ya kalau bukan pemandangan hijau-hijau, pemandangan biru-biru, atau pemandangan yang bening-bening, sejenis koko Lee Min Ho. Hihihiiii..

Kali ini saya pilih destinasi yang agak di luar kebiasaan. Saya pilih mengunjungi pemakaman. Ini apa ya istilahnya? Kalau tidak bisa saya sebut wisata religi, ya biarlah disebut wisata spiritual, atau wisata ngeri-ngeri sedap.

image

Jalanannya lebar dan mulus jayaaa..

Komplek pemakaman yang eksklusif ini dilengkapi dengan fasilitas yang mewah dan lengkap, lebih-lebih dari hotel bintang lima, seperti adanya kapel, musholla, florist & gift shop, kolam renang, restoran Italia, padang rumput asri untuk outdoor activity, function hall berkapasitas 250 orang, serta danau seluas 8 Ha yang dilengkapi jogging track sekelilingnya. Dalam hati saya bertanya, ini jogging track sebenarnya ditujukan buat apa dan buat siapa ya?? Agak heran aja 😅.

image

Hall dengan gaya Turki

wpid-img1444727955679.jpg

Jalanan di dalam kompleknya yang sangat terawat, pemandangan bebukitan yang menghijau, pepohonan rimbun yang memagari danau sukses membuat saya betah.

Pemakaman ini besutan *apaaaa lagi ini maksudnya, macam grup band aja* PT. Lippo Karawaci. Mengacu pada taman pemakaman terkemuka dunia, Forest Lawn Memorial Parks and Mortuaries di California-Amerika Serikat, di atas lahan seluas 500 Ha ini didirikanlah San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes yang kemudian diadaptasi konsepnya.

image

image

image

Kapel dengan gaya arsitektur Mediterania

Yang lebih mengagetkan saya, ternyata tempat ini juga disewakan untuk tempat pernikahan. Bagaimana saya tahu? Karena kebetulan saya jumpai sisa-sisa dekoran bekas nikahan.

image

image

Cemana ini, nikahan di pemakaman?? Walaupun awalnya agak aneh, tapi lalu menjadi masuk akal setelah saya lihat pemandangan dari tempat ini yang memang ciamik. Memang kesannya agak gimana gitu ya menghadiri pesta pernikahan di pemakaman.
A: Bro, minggu depan gw nikah nih. Loe dateng ya.
B: Pastinyaaa. Dimana bro acaranya?
A: Di kompleks pemakaman.
B: Bro, loe mau nikahan ato mau tahlilan?
*#”??!!*/=:#………

image

image

image

image

Area pemakamannya terbagi menjadi 3 bagian, dengan konsep dan filosofi mendalam yang menarik. Untuk jelasnya, silahkan buka web-nya yah. Panjang banget soalnya penjelasannya. Hehehe..

image

Tebak ini apa cobaaa?? Hah, lapangan basket?!? Plisss deh aaahh..

Satu lagi fasilitas di sini yang membuat saya takjub dan belum pernah saya temui selama saya ke pemakaman manapun, yaitu disediakannya Heli Pad. Keren kan..

Yang saya suka lagi, security-nya sangat sigap dan tegas. Salah satu contoh, ketika ada beberapa anak muda yang mulai nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, segera ditindak sehingga kesan tertib dan private sangat terasa.

image

image

Satu aja sih yang bikin saya agak terganggu, yaitu banyaknya angsa di sekitaran danau. Waktu 4 tahun yang lalu kesini, sekitaran danaunya masih bersih, sekarang jadi agak kotor, baik itu oleh makanan ataupun kotoran angsa. Hiyaaakkhh.. 🙊

image

Dan semua fasilitas yang disuguhkan tadi dihargai dengan sangat sangat pantas. IYKWIM. Heuheu.. Untuk paket pemakaman, yang termurah sekitar 40juta dan yang termahal sekitar 3M! Udah kayak beli rumaaaahh! *Udah, jangan melotot gitu donk bacanya.* 😂

image

Siapa bilang foto-foto di pemakaman selalu terkesan angker? Hihiii..

Berdasarkan salah satu slogan mereka, “Kini, melangsungkan pernikahan dan berwisata di kawasan pemakaman bukan lagi sesuatu hal yang tidak lazim dilakukan,” mari kita berwisata ke komplek pemakaman. 😁

San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes

Exit Tol Karawang Barat 2, Km.46
Hotline (24 Hours) : 0816 908 909
Web: http://www.sandiegohills.co.id