Akhirnya ke Labuan Bajo!

Trip saya dengan DDCPK bulan Juni 2017 kemarin dihandle oleh W.E (Wonderful East) Indonesia tour and travel. #IyaIniPromosi #TapiGakDibayar #MalahSuruhBayar #TapiGakPaPa #AnggapSedekah

Dipilihlah Labuan Bajo karena kami ingin melancong yang agak jauhan #mulaiberani #a.k.a #mulaisombong. Rasanya pilihan tepat untuk mengexplore timur Indonesia, secara keindahan pantainya sudah pasti juara!

Dilihat dari pesawat

Sesaat sebelum landing..

Perlahan tapi pasti, kepopuleran Labuan Bajo mulai meningkat menyusul Bali dan Lombok. Pengelola Taman Nasional Komodo mencatat sepanjang tahun 2017 kemarin, kunjungan wisatawan meningkat 2 kali lipat dari tahun 2016.

Labuan Bajo merupakan ‘pintu gerbangnya’ pulau Flores, dimana dari Bajo turis tersebar menuju Wae Rebo, Ende, Pulau Komodo, overland pulau, bahkan sampai ke Larantuka (Flores Timur).

Muka-muka bahagia.. Kamu kecil-kecil udah kesini, Val! Dulu saya segede gini, jarak terjauh adalah ke sekolah.

Bandar Udara Komodo nampaknya harus segera berbenah. Bandaranya yang kecil dengan landasan pacu pendek dan minim fasilitas, dikhawatirkan tidak mampu menampung arus peningkatan wisatawan. Semoga sejak diambil alih Angkasa Pura I bulan Desember’17 kemarin, semua aspek semakin baik.

Tarian penyambutan..

Dari airport, kami segera menuju penginapan yang mana ternyata penginapannya DEKAT, HANYA 5 MENIT! Jalan juga bisa sih sebenernya. Baru juga naik mobil, nyalain AC, eh udah turun lagi.. Yawlaaah! Belom juga dingin nih AC-nya.

Tour kami terbagi menjadi 2 fase; pertama ke desa adat Wae Rebo selama 2 hari 1 malam, lalu Live on Board (LOB) selama 3 hari 2 malam. SERU YAAAA.. #EhJanganSirik

Perjalanan ke Wae Rebo kami mulai jam 5 subuh pada hari kedua. Kami harus berangkat menempuh perjalanan darat kurang lebih 6 jam. Jalanannya jauh dari kata ramah. Tanjakan dan turunan tajam plus berkelok-kelok ekstrim, sukses membuat kami mabuk darat. Belum lagi jalanan menuju desa Denge (desa terakhir sebelum ke Wae Rebo) adalah jalanan kecil yang hanya muat dilewati 1 mobil dengan posisi pinggirnya kalau ngga jurang ya tebing. Kalau sopirnya tidak terbiasa dengan medan jalannya, wassalam deh. Nyerah guweh, nyeraaahh! Simak cerita Wae Rebo saya di postingan selanjutnya yaaa..

Setelah kembali dari Wae Rebo, besoknya barulah LOB dimulai. Sejujurnya membayangkan tinggal di kapal 3 hari 2 malam aja udah malesin buat saya. Bukan apa-apa, saya anaknya mabukan. Eh tapi setelah sailingnya dijalani, ternyata seru juga! Gak pake mabuk laut segala. Mungkin karena kapal kami lumayan besar jadi guncangan tidak terlalu berasa.

Kapal yang kami pakai

Di kapal kerjaan kami hanya makan-tidur-ngobrol-foto-makan lagi-gosip (iya ini sih saya)-tidur lagi-foto lagi #siklustakberkesudahan. Kami terisolasi dari dunia luar, tidak tau berita, tanpa TV, tanpa internet karena sinyal kadang-ada-banyakan-gak-ada. Tapi ternyata kami menikmati sekali hidup ala kapiten ๐Ÿ˜.

Bukan begitu, Kapten?

Berikut urutan trip selama LOB dimana bisa kalian jadikan guidance untuk menyusun itinerary jika ke Labuan Bajo.

Day 1. Pulau Kelor – Pulau Rinca – Pulau Manjarite – Pulau Padar

Hopping island kita yang pertama adalah ke Pulau Kelor. Lalu lanjut merasakan sensasi mengkomodo di Pulau Rinca. Berikutnya bebasahan snorkeling di Pulau Manjarite. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Padar untuk bermalam di teluknya. Sunset di sepanjang perjalanan ke Padar cantiiiiiiik sekali. Lembayung senja menyatu dengan garis pantai. Bias kejinggaan juga tampak dengan jelas, sampai foto-fotonya tidak perlu editing.

Day 2. Pulau Padar – Pink Beach – Pulau Gusung – Gili Laba

Setelah bermalam, pagi-pagi benar kami trekking mendaki ke bukit Padar. Untuk sampai di tanjakan 1 (tempat untuk lihat sunrise) menempuh waktu sekitar 30 menit. Harus ekstra hati-hati karena tanjakannya berpasir dan batuannya kasar seperti batu karang.

Turun dari Padar, kami lanjut ke Pink Beach yang tersohor itu. Setelah itu ke Pulau Gusung yang katanya Maldives ala-ala. Beres cebar-cebur di Gusung, kapal kami menepi di Gili Lawa/Gili Laba untuk bermalam.

Day 3. Gili Lawa – Pulau Kanawa – Manta Point – kembali ke Labuan Bajo

Ketika kemarin malam merapat di teluk Gili Lawa, saya sudah melihat adubilehnya bukit ini. Tinggi amatan yak! Sempet jiper juga sih, mikir besok naik-ngga-naik-ngga? Apalagi harus bangun jam 4 supaya kekejar lihat sunrise (ini berat bangettt). Cuma ya daripada ntar nyesel, akhirnya naik juga.

Setelah menguras stamina di Gili Lawa, kita merapat di Pulau Kanawa guna main-main air, snorkeling dan pepotoan. Dari sana lanjut ke Manta point. Di koordinat ini biasanya banyak manta berseliweran (katanya). Sayangnya pas kita kesana cuma nemu 2 manta.

Untuk detail cerita masing-masing tempat, cek di postingan terpisah yaaa..

Cheers!

Note:

Yang mau ke Bajo bisa ikut open tripnya Wonderful East Indonesia ya gaessss.. Selain Labuan Bajo, tersedia juga open trip Bangkok, Singapore, KL, Jepang, Filipina, bahkan Maldives! Cus kontak ownernya langsung Salmon Hungan, yang katanya ganteng menurut halusinasinya sendiri. Dijamin seruuu dan harganya pengertian banget! Tapi tournya tetap dihandle secara profesional.. HAZEKKK! ๐Ÿ’ƒ๐Ÿพ๐Ÿ‘

Advertisements

One thought on “Akhirnya ke Labuan Bajo!

Sila Tinggalkan Jejak..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s