Menikmati Magisnya Wae Rebo

Pendakian ke Wae Rebo adalah perjalanan menuju mendung, hujan, dan kabut. Pemandangan buram di kejauhan, rintik tak berkesudahan, bau lumut yang menyeruak, serta dingin yang menikam.

Tempat yang tepat untuk menerka-nerka dan menyimpan rahasia.

Suasananya begitu magis..

Tak ada larung pesta tawa, lenyap disantap rinai gerimis. Tiap sosok larut dalam irama detak jantungnya.

Saat yang tepat untuk berkontemplasi, menaklukkan, dan menjadi diri sendiri.

(Dikutip dari instagram saya sendiri ๐Ÿ˜โœŒ)

Seperti sudah sedikit dibahas di prolog cerita Bajo, jalanan ke Wae Rebo cukup menantang. Baru dua jam duduk di kursi belakang, saya merasakan badan mulai gak enak. Roti bakar sarapan tadi pagi berasa kayak lagi demo minta resign dari perut. Padahal saya udah makan Ant*mo dan Antang*n.

Dengan inisiatif tinggi, saya pindah ke kursi depan sebelah Pak Chris, driver yang mengantar kami. Duduk di depan sangat membantu kemaslahatan gejolak perut saya, tapi masalah lain muncul. Jalan berkelok dengan pinggiran jurang juga jadi makin jelas saya lihat! ๐Ÿ™ˆ

view dari atas

Kami tiba di desa Denge, desa terakhir yang bisa dilewati kendaraan, sekitar pukul 12 siang. Hujan mulai turun.

JENG JENG!!

Kami disambut Pak Blasius Monta, pemilik homestay Wejang Asih, satu-satunya penginapan di desa Denge. Kami menumpang rehat sejenak sembari mengisi perut sebelum memulai pendakian. Kurang lebih satu jam kami disini. Hujan bertambah deras.

JENG JENG JENG!!!

Cobalah kami menunggu hujan reda sampai pukul 2. Nihil! Malah semakin menggila. Karena takut terlalu malam, kami memaksakan diri tetap mendaki.

Semangat kami mulai kendor. Saya juga ketar-ketir sih karena saya membawa Val yang masih berumur 6 tahun. Membayangkan mendaki 4 jam di tengah kabut dan hujan deras, sambil membawa anak 6 tahun, menjadi pergolakan batin tersendiri. Hampir saya memutuskan tidak jadi mendaki saja, ikut bermalam di penginapan Pak Blasius. Suami meyakinkan bahwa anak ini akan baik-baik saja, dia bisa melewatinya. BEKLAH!!

Meniti jalanan terjal bertanah merah di tengah hujan deras = LICIN! Bangeeettt.. Sejam pertama menjadi saat-saat terberat karena mental dan fisik kami diuji oleh alam. Boro-boro mau ngobrol, untuk atur nafas sendiri aja perjuangan. Cuaca dingin tapi badan gerah karena terbalut jas hujan. Nah gimana tuh? Jadinya ribet sendiri. ๐Ÿ˜…

Perjalanan panjang tidak sia-sia. Jam 5-an kami sudah melihat desa adat Wae Rebo DARI KEJAUHAN (masih terhalang beberapa bukit). Guide lokal kami bilang kalau sudah dekat. Yang harus saya perjelas disini, sudah dekatnya mereka = 1 jam perjalanan lagi mak!

kabut, kabut, kabut..

Jam 6-an akhirnya kami tiba di pondok penyambutan. Dari pondok itu, guide kami membunyikan kentongan tanda adanya tamu. Semacam permisi sebelum memasuki desa adat.

Kami lanjut menuruni lembah dan sampailah di gerbang masuk. Saya hendak memfoto gerbang masuk itu tapi dicegah oleh bapak guide. Katanya kami harus ikut prosesi penyambutan dulu baru diperbolehkan foto-foto. Kalau tidak, nanti fotonya tidak akan jadi. Sebagai pendatang yang baik tentu kita harus mengikuti aturan setempat.

Lalu kami diminta masuk pada satu mbaru niang (rumah adat yang beratapkan jerami berbentuk kerucut), lalu tetua adat mengadakan sebuah upacara penyambutan. Beliau merapalkan doa kepada leluhurnya dalam bahasa daerah setempat, yang sejujurnya bagi saya terdengar seperti mantra. Tujuannya adalah meminta ijin kepada roh leluhur bahwa ada orang luar mau bertamu sekaligus meminta perlindungan.

Selesai prosesi, kami langsung bersih-bersih. Perut mulai meronta di tengah udara dingin. Untungnya tak lama makan malam yang dibuat oleh mamak-mamak disana, disuguhkan. Walau sederhana tapi entah kenapa terasa nikmat.

tolong abaikan celana-celana basah yang digantung seenak jidat. Yang penting kami BAHAGIA!

Kami tidur dalam satu mbaru niang, bersamaan dengan tamu lain. Listrik menyala hanya dari pukul 6 sore dan dipadamkan pukul 10 malam. Jadilah kami berebut colokan listrik selama waktu itu.

Paginya saya bangun agak kesiangan. Mau ngejar sunrise tapi koq dinginnya bikin betah ngeringkuk di bawah selimut. Ya masih lumayan lah dapet foto-fotonya.

si bolang yang tangguh

Di tengah kawasan terdapat susunan batu melingkar. Jangan sekali-kali menaiki atau mendudukinya karena itu adalah altar ketika menggelar prosesi adat. Catet!

Ada satu mbaru niang yang dipakai sebagai tempat jualan souvenir. Kain tenun, syal, gelang-gelang tersedia. Bagi kalian pecinta kopi, wajib beli kopi asli Wae Rebo yang rasanya juaraaaa!!

Menjelang siang kami berpamitan untuk kembali ke desa Denge. Perjalanan pulang lebih menceriakan hati karena cuaca cerah dan jalanan menurun. Bisa putu-putu deh!

Wae Rebo mengajarkan saya artinya perjuangan, kesabaran, kearifan budaya, sekaligus kehangatan masyarakat lokal. Beberapa kali papasan dengan warga setempat, mereka selalu menyapa dengan ramah. Sukak!

boleh sombong dikit yaaa, boleh yaaa..

Oya, jangan pikirkan sinyal selama disini. Lebih baik matikan sinyal dan sisa baterenya untuk foto-foto daripada batere habis karena cari-cari sinyal yang tak akan kunjung didapat. ๐Ÿ˜‚

 

Cheers!

 

Tips:

โ€ข Persiapkan fisik. HARUS!

โ€ข Persiapkan alas kaki (langsung coret sandal jepit).

โ€ข Kaos kaki panjang tebal untuk menghindari gigitan lintah.

โ€ข Prepare baju hangat dan jas hujan.

โ€ข Jaga kebersihan dan kesopanan sebagaimana tamu yang baik.

โ€ข Namanya juga mendaki gunung, pakailah ransel. Kalau mengharuskan bawa koper karena dalam perjalanan transit (misal mau lanjut ke Ende atau Larantuka), koper bisa dititip di rumah Pak Blasius (HP. 081339350775)

Advertisements

Sila Tinggalkan Jejak..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s