PAPUA, Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi

Jujur saat ini saya sedang dilanda kebosanan. Anjuran pemerintah untuk physical distancing terkait isu Covid-19 mulai membuat saya jengah. Tangan rasanya gatal ingin membeli tiket yang akhir-akhir ini harganya terjun bebas. Kaki rasanya sudah kesemutan ingin jalan-jalan. Beruntung otak yang masih waras mengingatkan, “Nanti kalau beli ternyata tidak bisa pergi, gimana?”, “Nanti kalau jadi carrier atau malah ketularan, gimana?” Iya iyaa.. Akhirnya yang bisa saya lakukan hanya menikmati foto-foto orang pelesir di sosmed. Apakah itu membantu?

Oh tentu tidak, Marimar!

Okelah, atas nama kegabutan kerinduan akan traveling, saya akan membahas salah satu destinasi wisata unggulan di ujung timur Indonesia yang sudah tersohor sampai ke mancanegara: PAPUA!

a8e36571070d3314b244cb06748e81696969026608697419780.jpg

Pianemo Island. Picture Credit: Eni Jenikawati

Meskipun saya belum pernah ke Papua (yang mana sudah ada di bucket list saya dari 3 tahun lalu), izinkan saya mengupas sedikit tentang alam di sana, ya. Berbekal informasi dari seorang kawan yang tinggal dan mempunyai usaha tour di Raja Ampat, saya memperkaya pengetahuan saya tentang Bumi Cenderawasih ini. Berhubung saya tidak pelit ilmu, tenaaang akan saya bagikan kepada anda sekalian. Flexibel saya mah, mana yang menghasilkan ya digarap. 😝

Please jangan bully saya.

418e64286e25aadea33753732983dfd2527861692480691607.jpg

Suku asli Papua

Sekilas Tentang Papua

Papua terbagi menjadi dua propinsi: Papua (beribukotakan Jayapura) dan Papua Barat (beribukotakan Manokwari). Ini beda lagi dengan Papua Nugini yang sudah memisahkan diri dari Indonesia, ya.

Kekayaan alam Papua yang paling bernilai adalah mineral. Antara lain emas, gas alam cair, uranium, dan minyak bumi. Bukan hanya atas lautnya yang ciamik, di dalam lautnya pun terdapat kekayaan alam yang memesona. Selain mutiara Raja ampat yang tersohor, wisata bahari Raja Ampat juga merupakan 5 besar destinasi wisata dunia. Bagaimana tidak, menurut riset dari The Nature Conservancy, 75% spesies laut dunia dapat ditemukan di perairan Raja Ampat, lho! Kurang ciamik apa coba Indonesia kita ini?

20200328_2257288473322189505217102.jpg

Monmaap, disensor yha kakakkk..

Papua memiliki segala keindahan alam yang tak habis-habisnya. Siapa sih yang tidak tahu Raja Ampat? Pernah dengar kan Taman Nasional Teluk Cenderawasih? Atau danau terbesar di Papua, Danau Sentani? Tahukah anda, diantara 7 puncak gunung tertinggi di dunia, salah satunya ada di pegunungan Jayawijaya, Papua? Puncak Jayawijaya yang memiliki salju abadi dengan puncak gugusan karstnya, dikenal dengan Seven Summit ‘Puncak Kartens / Carstensz.’ Tolong jangan suruh saya mencontohkan cara bacanya.

06e7b53226725621e08cf9d0e4ea83e77928442002439977398.jpg

Wim Motok Mabel, mumi berumur sekitar 250 tahun yang diawetkan dengan cara diasap. Dalam bahasa lokal, Wim berarti perang, Motok berarti panglima, dan Mabel adalah nama aslinya.

Culturenya juga memiliki pesona dan daya tarik yang luar biasa. Tak hanya alamnya yang kaya, Papua menyimpan kearifan budaya lokal yang masih terjaga keasliannya. Keunikan itu menjadi kekayaan yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya di belahan dunia mana pun.

Banyak orang mengatakan, “Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi.” Itu benar nyata di tanah Papua.

a67bf5b9031fbf4afe318d54ebabb6b81435714899455624147.jpg

Hi, cutie!

Papua, Destinasi Wisata Hijau

Seperti kita tahu, banyak jenis wisata di Indonesia. Sebut saja Wisata Alam, Wisata Religi, Wisata Belanja, Wisata Budaya, Wisata Kuliner, sampai Wisata Edukasi, tapi pernahkah anda mendengar tentang Wisata Hijau?

53f6d4c42ea7628b6f19dca0f6ff951b88462034122667160.jpg

Honai, rumah tradisonal Papua yang terbuat dari kayu dan beratapkan jerami

Asal mula istilah ini adalah dari julukan Indonesia sebagai Zamrud Khatulistiwa. Indonesia yang beriklim tropis, jika dilihat menggunakan satelit, gugusan kepulauannya membentang hijau cantik bak zamrut. Nah, Papua merupakan salah satu surganya Wisata Hijau populer di Indonesia.

Koq bisa?

Karena hutan di Papua masih sangat luas. Hal ini pula yang membuat Papua cocok untuk wilayah konservasi dunia. Papua Barat juga memiliki hutan yang lebat dan rapat. Hutan-hutan ini berkontribusi besar terhadap dunia karena memberikan oksigen untuk penduduk bumi. Selain Kalimantan, Papua juga adalah paru-paru dunia. Keren, yah!

20200328_2254481925497081982209624.jpg

Mbak Eni, teman yang saya pinjami foto-fotonya. Bhihihiii..

Sedikit Tentang Raja Ampat

Raja Ampat merupakan salah satu tempat menyelam terbaik di dunia. Untuk memandang ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna ini, tidaklah semudah itu, Fulgozo! Kendala soal tiket merupakan hal yang utama. Berwisata ke Raja Ampat kerap identik dengan harga yang mahal. Betul.

Untuk menuju Raja Ampat, anda harus mengambil penerbangan ke Sorong, Papua Barat. Setelah sampai di Sorong, anda masih harus menempuh perjalanan via laut selama kurang lebih 3-4 jam. Estimasi total durasi perjalanan yang harus anda tempuh sekitar 8 jam (berangkat dari Jakarta, dengan penerbangan langsung tanpa transit). Mayan juga, yhaaaa!

Tenang, setelah perjalanan melelahkan itu, bersiaplah untuk bahagia!

57e841840466f1af6d17fe631f67e52d1470133009655777838.jpg

Duh, kalian harus tahu beratnya melihat foto-foto Raja Ampat ketika saya mencari bahan untuk tulisan ini. Dia seperti melambai-lambai di depan mata sembari menggoda, “Yakin gak mau kesini, kakak? Secantik ini lho lautan kami.” Gituuu.. BERAT!

Jelajahilah setidaknya satu dari empat pulau besar yang terdapat di sekitar Raja Ampat, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau Salawati, dan Pulau Misool.

Setelah menikmati 540 jenis koral warna-warni di dunia bawah lautnya, jangan lupa naik ke perbukitannya. Gugusan pulau Misool adalah salah satu destinasi favorit untuk trekking. Kalau di sana sedang ramai? Tenaaang, masih ada 610 pulau kecil tak berpenghuni yang bisa anda pilih untuk trekking. Cap-cip-cup aja mau yang mana.

19e9f88297bd122a30ddb31b55633aea5698264350582609691.jpg

Misool Island. Apik!

Yang menarik perhatian saya, di pulau Misool ini terdapat dua danau unik, yaitu danau Lenmakana dan Danau Karawapu. Mengapa unik? Karena di danau ini terdapat ribuan ubur-ubur tidak beracun seperti yang ada di Danau Kakaban (Kaltim). Aihhh, lucunyaaaaa!

c32ce81f2ee2b5e3442d57a90e1aa6e42653319774121528619.jpg

Misool Island view lebih dekat. Seger banget bayangin nyebur di sana

Wahai Traveler Yang Budiman

Sebagai warga negara yang baik, kita wajib ikut dalam pelestarian lingkungan, bukan? Beberapa tahun terakhir ini saya sedang mencoba untuk lebih ramah dengan lingkungan seperti yang digaungkan oleh EcoNusa Foundation.

Ya walaupun tidak bisa zero waste, setidaknya bisa eco mindfullness. Caranya? Sebisa mungkin saya mengurangi pemakaian barang yang berpotensi menambah limbah, terutama plastik dan styrofoam. Dua bahan itu saja masih sering kecolongan. Saya membiasakan diri membawa botol minum sendiri, membawa wadah sendiri untuk take away, mengurangi pemakaian tissue, dan tidak malas membawa sedotan stainless. Semudah itu ngomongnya sih, hanya kadang susah untuk membuat orang lain mengerti. Kayak dia yang susah banget ngertiin aku, gaes. 😭

img-20200329-wa00043875346694805068077.jpg

Puncak Wayag (Pic by: Negeri Dongeng Trip)

Ini penting! Karena segala limbah kan akan bermuara di lautan. Memangnya kamu gak kasihan lihat penyu yang kesakitan karena sedotan nyangkut di tenggorokannya? Gak iba lihat anjing laut makan plastik karena dia sangka itu cumi-cumi?

Guys please, jaga laut kita karena laut bukan hanya untuk manusia. Jangan cuma hati aja yang fokus kamu jaga, Bambang! Ayok, berusaha lebih ramah ke lingkungan. Kalau alamnya nyaman, buminya asri, kan kita yang tinggalnya juga tenang. Oke? Deal yaaa!

6800752da571013208895472cc3900fd4011664054317795817.jpg
Selamat menikmati senja cantik di timur Indonesia. It’s priceless!

 

Tips:

  • Booking tiket jauh-jauh hari
  • Jangan lupa peralatan mantai
  • Jika berencana berenang di danau ubur-uburnya, ada beberapa hal yang harus kamu ingat. Pertama, jangan menyentuh mereka walaupun kalian gemas, karena walaupun lucu tapi sesungguhnya mereka rapuh. Kayak saya banget ini. Kedua, jangan menggunakan fins/sepatu katak, nanti kasihan ubur-uburnya kegebok kaki kamu. Ketiga, jangan memakai sunblock agar ekosistem mereka tidak tercemar.
  • Datanglah pada bulan Oktober – November karena cuaca sedang bagus-bagusnya dan diapun sedang sayang-sayangnya sehingga air laut sangat jernih dan jarak pandang selam anda maksimal.
  • Untuk memangkas biaya transport, anda bisa memilih naik kapal PELNI saat perjalanan pulang. Memang durasi perjalanannya akan menjadi jauh lebih lama, tapi budget anda akan berkurang signifikan.
  • Latihan snorkeling atau bahkan ambil license diving terlebih dahulu. Karena apalah artinya under water cantik tapi anda hanya melihatnya dari atas. Sama seperti apalah gunanya kamu memberi seluruh waktumu tapi dia hanya memberi sisa-sisa waktunya. Lempar aja say ke laut yang begituan, mah! EH.

 

NB: Special thanks to Mbak Eni Jenikawati untuk foto-fotonya, all picture credits here belongs to her. Terima kasih juga Kak Robby Oktafia Wangke untuk info seputar Papua-nya. *hug! 🤗

8 thoughts on “PAPUA, Surga Kecil Yang Jatuh ke Bumi

  1. Ester Aprillia says:

    Berat mana sama nungguin dia yg gak ada kepastian kak? 🤪 Koleksi bukunya banyak banget sih kak? Tebel-tebel pula.. Sebagai penggemar komik Doraemon, aku merasa minder 😅

    Like

Sila Tinggalkan Jejak..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s